Berita

/

Siaran Pers

/

Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional

/

Setahun MBG, Gizi Anak Naik Ekonomi Daerah Bergerak

Setahun MBG, Gizi Anak Naik Ekonomi Daerah Bergerak

Nomor: SIPERS-50A/BGN/01/2026

Siaran Pers 25 Januari 2026

picture-Setahun MBG, Gizi Anak Naik Ekonomi Daerah Bergerak

Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada perbaikan status gizi anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah dalam skala nasional. Dalam waktu satu tahun pelaksanaan, program MBG berkembang pesat dan menciptakan efek berganda bagi sektor pangan, pertanian, serta lapangan kerja di berbagai wilayah Indonesia.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyampaikan bahwa sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025, MBG mengalami akselerasi signifikan. Dari awalnya 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani sekitar 570 ribu penerima manfaat, kini telah terbentuk lebih dari 21.000 SPPG yang melayani sekitar 58 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Perkembangan tersebut ditopang oleh partisipasi aktif masyarakat. Seluruh SPPG yang berdiri saat ini dibangun melalui pendanaan masyarakat, menjadikan MBG sebagai model kolaborasi sosial berskala nasional. Dalam operasionalnya, BGN kini mampu menyalurkan anggaran hingga sekitar Rp855 miliar per hari atau sekitar Rp17 triliun per bulan untuk intervensi pemenuhan gizi.

“Seluruh SPPG yang sekarang sudah berdiri sebanyak 21.005 itu 100% dibiayai oleh dana masyarakat,” ujar Dadan di Jakarta, Minggu (25/1).Menurutnya, mekanisme ini bukan hanya mempercepat pemerataan layanan gizi, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi langsung di daerah.

Setiap SPPG mengelola anggaran sekitar Rp9–10 miliar per tahun, dengan sekitar 70 persen dialokasikan untuk pembelian bahan baku pangan dan lebih dari 95 persen di antaranya berasal dari sektor pertanian, peternakan, dan perikanan lokal. Selain itu, sekitar 20 persen anggaran digunakan untuk membayar relawan dan tenaga kerja, sementara 10 persen lainnya untuk pengembalian investasi masyarakat.

“Badan Gizi sekarang bisa berperan dalam dua hal, yang pertama kita meng-create demand,” kata Dadan. Ia menjelaskan bahwa menu MBG dirancang bukan sekadar menggantikan makanan harian anak, tetapi meningkatkan kualitas konsumsi, seperti pemberian telur, ayam, hingga daging sapi secara teratur, yang sebelumnya jarang dikonsumsi anak-anak di banyak daerah.

Dampak program juga terlihat pada perubahan perilaku anak. Di wilayah yang telah menjalankan MBG selama satu tahun penuh, BGN mencatat peningkatan signifikan pada kehadiran siswa di sekolah, aktivitas belajar yang lebih aktif, serta daya tahan fisik anak dalam beraktivitas dan bermain. “Begitu ada program makan bergizi, dia bangun lebih awal dan membangunkan neneknya,” tutur Dadan, mengisahkan perubahan perilaku seorang anak di Papua. (SS)

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional