Berita

/

Siaran Pers

/

Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional

/

Resmikan SPPG Pulau Sebatik, Kepala BGN: Dalam Setahun MBG Sudah Jangkau Wilayah Terluar

Resmikan SPPG Pulau Sebatik, Kepala BGN: Dalam Setahun MBG Sudah Jangkau Wilayah Terluar

Nomor: SIPERS-46/BGN/01/2026

Siaran Pers 22 Januari 2026

picture-Resmikan SPPG Pulau Sebatik, Kepala BGN: Dalam Setahun MBG Sudah Jangkau Wilayah Terluar

Nunukan – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nunukan Sebatik Tanjung Karang, yang dikelola Yayasan Aztrada Garuda Jaya, di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara (Kaltara), Kamis (22/1).

Peresmian ini menandai hadirnya layanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga ke wilayah pulau terluar Indonesia. Dalam sambutannya, Dadan menyebutkan hingga saat ini total Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi mencapai 21.335 unit hanya dalam waktu satu tahun.

"Hari ini, sudah berjumlah 21.335 SPPG termasuk di pulau terluar di Pulau Sebatik. Dalam satu tahun, SPPG sudah menyentuh pulau terluar Republik Indonesia," kata Dadan.

Dadan menuturkan, sejak awal pihaknya mengembangkan konsep SPPG sebagai sebuah ekosistem pemenuhan gizi. Uji coba dilakukan sejak Januari 2024 di Warung Kiara, Sukabumi, Jawa Barat, jauh sebelum masa kampanye dan pelantikan Presiden Prabowo Subianto.

Proses uji coba tersebut memakan waktu sekitar lima bulan, terutama untuk memastikan kualitas pengolahan makanan dalam skala besar. "Jadi uji coba ini sudah dilakukan di Warung Kiara Sukabumi. Butuh waktu cukup lama sampai semua bisa dilakukan dengan baik minimal 5 bulan karena kita mengumpulkan ibu-ibu yang tidak biasa masak dalam jumlah besar sehingga bisa masak dengan kematangan benar," ujarnya.

"Setelah kita lakukan dengan baik, kita kemudian berpikir bagaimana ini bisa menyebarluaskan ke seluruh Indonesia dengan karakteristik yang berbeda juga. Alhamdulillah, SPPG di Warung Tiara Sukabumi sekarang sudah beranak pinak menjadi 21.330 dalam waktu satu tahun," lanjut dia.

Keberhasilan program ini, lanjut Dadan, didukung oleh tiga faktor utama. Pertama, dukungan anggaran dari Presiden yang dinilai sangat besar. Untuk tahun berjalan, pagu anggaran BGN pada 2026 telah mencapai Rp 268 triliun, ditambah rencana tambahan Rp 67 triliun, sehingga total anggaran sekitar Rp 335 triliun.

Kedua, dukungan sumber daya manusia (SDM). Sebanyak 33.000 Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia telah direkrut dari berbagai daerah dan dididik di Universitas Pertahanan dalam tiga gelombang. Mereka menjadi pimpinan SPPG di seluruh Indonesia.

Ketiga, pembangunan infrastruktur yang sepenuhnya didanai oleh masyarakat. Dadan menegaskan, hingga kini belum ada satu rupiah pun dana APBN yang digunakan untuk pembangunan fisik SPPG.

"Jadi 21.330 itu kalau dikalikan Rp 2 miliar saja, itu masing-masing sekarang sudah ada kurang lebih uang Rp 43 triliun yang berkontribusi terhadap pembangunan SPPG. Itu semua adalah kontribusi masyarakat," ungkapnya.

Berkat besarnya partisipasi masyarakat menjadi kunci utama percepatan program pemenuhan gizi nasional. Ia optimistis kualitas layanan SPPG di Pulau Sebatik akan setara dengan SPPG di wilayah lain di Indonesia.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional