Berita

/

Siaran Pers

/

Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional

/

MBG Jadi Investasi Terbesar Menuju Indonesia Emas 2045

MBG Jadi Investasi Terbesar Menuju Indonesia Emas 2045

Nomor: SIPERS-50B/BGN/01/2026

Siaran Pers 25 Januari 2026

picture-MBG Jadi Investasi Terbesar Menuju Indonesia Emas 2045

Jakarta — Pemerintah menempatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai investasi strategis terbesar dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program ini dirancang untuk memastikan bonus demografi tidak hanya menghasilkan jumlah penduduk produktif, tetapi juga kualitas generasi yang mampu bersaing menuju Indonesia Emas 2045.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menegaskan bahwa gizi merupakan fondasi utama kualitas manusia. “Gizi adalah fondasi dasar untuk kualitas SDM di masa yang akan datang,” ujar Dadan di Jakarta, Minggu (25/1). Kesadaran inilah yang mendorong Presiden Prabowo Subianto menempatkan MBG sebagai program prioritas nasional dalam kerangka hasil terbaik cepat.

Secara demografis, Indonesia masih tumbuh sekitar tiga juta penduduk per tahun dan diproyeksikan mencapai 324 juta jiwa pada 2045. Namun tantangan utama bukan terletak pada pertumbuhan itu sendiri, melainkan pada kualitas sumber pertumbuhan tersebut. Data menunjukkan sebagian besar anak Indonesia lahir dari keluarga dengan rata-rata pendidikan orang tua di bawah sembilan tahun, terutama di provinsi dengan jumlah penduduk terbesar seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Kondisi tersebut mencerminkan bahwa bonus demografi Indonesia terutama disumbang oleh kelompok keluarga dengan keterbatasan pendidikan, pendapatan, dan literasi gizi. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua berdampak langsung pada pola asuh, kemampuan ekonomi, serta akses anak terhadap makanan bergizi seimbang, sehingga berisiko menurunkan kualitas kesehatan dan kapasitas belajar anak sejak usia dini.

BGN mencatat sekitar 60 persen anak Indonesia belum memiliki akses terhadap menu gizi seimbang dan hampir tidak pernah mengonsumsi susu karena keterbatasan daya beli. Situasi ini memperkuat alasan negara harus hadir melalui intervensi gizi yang terstruktur, masif, dan berkelanjutan untuk memutus rantai ketimpangan kualitas SDM sejak awal kehidupan.

Program MBG menyasar dua fase kritis kehidupan, yakni 1.000 hari pertama kehidupan untuk mencegah stunting dan mengoptimalkan perkembangan otak, serta fase pertumbuhan usia 8 hingga 18 tahun untuk memastikan pertumbuhan fisik yang optimal. “Oleh sebab itu program MBG menyasar pada dua kelompok ini yaitu 1000 hari pertama kehidupan dan kelompok pertumbuhan,” tambah Dadan.

Dalam implementasinya, MBG berkembang pesat sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025. Hingga kini, lebih dari 21 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi telah terbentuk dan melayani sekitar 58 juta penerima manfaat. Program ini tidak hanya meningkatkan status gizi anak, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi daerah melalui penyerapan produk pangan lokal dan penciptaan lapangan kerja.

“Ini merupakan program investasi terbesar pemerintah Republik Indonesia terhadap kualitas SDM di masa yang akan datang,” tegas Dadan. Pemerintah berharap melalui MBG, generasi muda Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan produktif, sehingga mampu menjadi pemimpin dan tenaga kerja berdaya saing global pada 2045.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional