Berita
/
Siaran Pers
/
Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional
/
Kepala BGN Sudaryono Dorong Sistem Prasmanan MBG, Target Hingga 10.000 Dapur
Kepala BGN Sudaryono Dorong Sistem Prasmanan MBG, Target Hingga 10.000 Dapur
Nomor: SIPERS-386/BGN/10/2026
Siaran Pers • 1 November 2026
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNJakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono atau Mas Dar menargetkan sebanyak 5.000 hingga 10.000 dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) menerapkan sistem penyajian prasmanan hingga akhir 2026. Sistem ini diharapkan dapat menjaga kualitas makanan tetap hangat saat dikonsumsi siswa sekaligus mengurangi risiko keamanan pangan dan gangguan kesehatan.
"Target saya adalah sampai dengan akhir tahun untuk mengurangi keracunan makanan, makanan rusak, gangguan kesehatan, dan paling dinikmati oleh siswa ini, maka kami berharap sampai dengan akhir tahun kita bisa implementasi MBG prasmanan 5.000 - 10.000 dapur sudah bisa mengimplementasikan," kata Mas Dar.
Dia menjelaskan, penerapan sistem prasmanan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi sekolah dan jumlah santri atau siswa yang dilayani. Pada pondok pesantren dengan jumlah santri lebih dari 1.000 orang, pembangunan dapur dapat dilakukan di lingkungan pesantren. Sementara itu, pesantren dengan jumlah santri di bawah 1.000 orang dapat dilayani melalui dapur terpusat atau central kitchen.
Mas Dar mencontohkan, jika satu kelas terdiri atas 30 siswa, makanan berupa nasi, sayur, dan lauk dibawa sesuai kebutuhan ke kelas tersebut. Siswa kemudian mengambil makanan, makan bersama, dan membereskan perlengkapan setelah selesai.
Menurutnya, sistem tersebut memungkinkan makanan disajikan dalam kondisi hangat tanpa perlu dipanaskan kembali di sekolah. Suhu makanan juga dijaga minimal 60 derajat celsius untuk mempertahankan kualitasnya hingga waktu konsumsi.
"Bukan 300 orang dalam satu sekolah, kemudian bikin kayak orang kawinan, bukan. Tapi prasmanan itu disajikan per kelas-kelas. Jadi hangat-hangatnya itu di kelas-kelas. Jadi kalau di kelas ada 30 orang, dia bawa 30 porsi nasi, sayur, lauk, ditaruh di kelas, dia sajikan, dia makan, dia beresi, kemudian selesai," ujarnya.
Ia menyebut, berdasarkan evaluasi awal yang disampaikannya, 66 dapur yang telah menerapkan sistem prasmanan belum mencatatkan kasus keracunan makanan. "Ini, jadi 66 sekarang ini sudah, kemudian kasus keracunannya enggak ada. Jadi, yang kecil-kecil bisa nambah, yang masih kurang bisa nambah, dan seterusnya," ungkapnya.
Lebih lanjut Mas Dar mengatakan, konsep dapur terpusat dan penyajian prasmanan merupakan praktik yang dipelajari BGN dari sejumlah negara, termasuk Jepang dan beberapa negara di Eropa. Ia menyebut, berdasarkan pembelajaran yang diperoleh dari Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA), terdapat pergeseran dari dapur yang berada di sekolah menuju sistem central kitchen.
Model tersebut dinilai memiliki keuntungan dari sisi skala ekonomi dan pengelolaan yang lebih terpusat. Karena itu, BGN berupaya mengembangkan penerapan sistem serupa dalam pelaksanaan program MBG di Indonesia. Dia ingin sistem prasmanan diterapkan secara luas di dapur MBG dan sekolah.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional