Berita
/
Siaran Pers
/
Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional
/
Kepala BGN sebut Pendidikan dan Asupan Gizi Sangat Pengaruhi Kualitas SDM
Kepala BGN sebut Pendidikan dan Asupan Gizi Sangat Pengaruhi Kualitas SDM
Nomor: SIPERS-47/BGN/01/2026
Siaran Pers • 22 Januari 2026
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNNunukan – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menegaskan pentingnya intervensi gizi sejak dini untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat Peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Nunukan Sebatik Tanjung Karang, di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara (Kaltara), Kamis (22/1).
Ia menyoroti capaian rata-rata lama sekolah di Kalimantan Utara yang mencapai 9,8 tahun. Angka tersebut dinilainya lebih tinggi dibandingkan sejumlah provinsi besar di Pulau Jawa.
"Saya melihat angka pendidikan rata-rata Kalimantan Utara itu 9,8. Ini jauh lebih baik dibandingkan tiga provinsi besar di Jawa. Perlu diketahui bahwa Jawa Barat itu provinsi yang penduduknya paling besar. Paling dekat dengan Daerah Istimewa Jakarta. Pendidikan rata-ratanya hanya 8,8," kata Dadan.
"Jadi rata-rata penduduk Jawa Barat pendidikannya hanya lulusan SD. Kemudian Jawa Tengah juga demikian, di mana sumber presiden ada di situ. Orang-orang penting pendidikannya hanya 8,01. Kemudian Jawa Timur juga asal-usul presiden itu pendidikannya 8,11," sambungnya.
Ia menjelaskan, rendahnya rata-rata pendidikan orang tua di sejumlah provinsi dengan jumlah penduduk besar turut memengaruhi kualitas sumber daya manusia secara nasional. Oleh karena itu, pemerintah saat ini menempatkan program pemenuhan gizi sebagai prioritas utama untuk memutus mata rantai persoalan tersebut.
"Oleh sebab itu, pemerintahan sekarang sangat concern dengan itu. Maka program ini akan menjadi super prioritas karena kita ingin mengintervensi anak-anak mulai dari dalam kandungan," ucap Dadan.
Dadan menekankan dua titik krusial dalam intervensi gizi. Pertama, seribu hari pertama kehidupan yang mencakup masa kehamilan, menyusui, dan usia balita. Pada fase ini, perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga asupan gizi seimbang menjadi kunci untuk melahirkan generasi yang cerdas.
Kedua, fase pertumbuhan anak usia 8 hingga 18 tahun, yang menjadi periode penting bagi perkembangan fisik. Ia mengingatkan para orang tua, khususnya ibu hamil, untuk tidak melakukan diet berlebihan selama kehamilan agar kebutuhan nutrisi anak terpenuhi dengan baik.
"Jadi jangan diet pada saat hamil. Jadi harus makan dengan gizi seimbang agar anak otaknya tumbuh dengan baik," sarannya.
Selain asupan makanan, Dadan juga menekankan pentingnya pola pengasuhan, termasuk waktu istirahat yang cukup bagi anak-anak usia sekolah. Menurutnya, kebiasaan makan, tidur, dan konsumsi susu secara rutin dapat mendukung pertumbuhan tinggi badan dan kesehatan tulang.
"Ini contohnya ada di rumah soalnya ada 2 anak saya. Pola pengasuhannya seperti itu. Susunya dikasih minum setiap hari. Sampai anak usia 18 tahun dan pulang sekolah disuruh tidur. Anak saya yang pertama itu tingginya 181. Kemudian anak yang kedua tingginya 185. Dan tulangnya besar-besar. Karena pola pengasuhannya seperti itu," pungkasnya.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional