Berita

/

Siaran Pers

/

Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional

/

Kepala BGN sebut Besarnya Potensi Ekonomi di Balik SPPG

Kepala BGN sebut Besarnya Potensi Ekonomi di Balik SPPG

Nomor: SIPERS-50D/BGN/01/2026

Siaran Pers 25 Januari 2026

picture-Kepala BGN sebut Besarnya Potensi Ekonomi di Balik SPPG

Jakarta — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengatakan bahwa keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tidak hanya berdampak pada perbaikan status gizi masyarakat, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dan berkelanjutan.

Setiap SPPG, lanjut Dadan, membutuhkan pasokan bahan pangan dalam jumlah besar setiap hari karena menu yang disajikan selalu disusun berdasarkan prinsip gizi seimbang, yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, dan serat.

Dalam sekali proses memasak, satu SPPG membutuhkan sekitar 200 kilogram beras atau karbohidrat setara. Dalam sebulan, kebutuhan tersebut mencapai sekitar 5 ton beras atau setara 10 ton gabah kering giling.

"Sekali masak untuk satu SPPG itu butuh 200 kg beras atau karbohidrat. Jadi satu bulan itu dia butuh 5 ton beras. Artinya, 10 ton gabah kering giling. Itu artinya harus ada 2 hektare yang dipanen pada satu bulan itu untuk satu SPPG. Jadi satu SPPG itu satu tahun butuh 24 hektare luas panen," paparnya di Jakarta, Minggu (25/1).

Kebutuhan pangan lainnya juga tidak kalah besar. Untuk satu kali penyajian buah pisang, satu SPPG membutuhkan sekitar 3.000 buah pisang atau setara 150 sisir. Jumlah tersebut setara dengan 15 tandan atau 15 pohon pisang dalam satu kali penyajian.

"Kalau satu tandannya 10 itu artinya 15 tandan. Satu tandan satu pohon. Jadi satu kali ngasih makan pisang, itu 15 pohon harus ditebang. Kalau dua kali seminggu kan 30 pohon pisang. Sebulan 120 pohon pisang, setahun 1.440 pohon pisang. Jadi satu SPPG itu harus ada 1,5 hektare pohon pisang agar pisang bisa diberikan dua kali seminggu," papar Dadan lagi.

Untuk sumber protein hewani, satu kali pemberian telur membutuhkan sekitar 3.000 butir telur. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan dari sekitar 4.000 ekor ayam petelur atau empat kandang ayam di satu SPPG.

Sementara itu, untuk susu, sekali penyajian membutuhkan sekitar 450 liter atau setara 3.000 kotak susu kemasan kecil. Jika disusun dalam dus berisi 24 kotak, maka dibutuhkan sekitar 125 dus susu untuk satu kali distribusi di satu SPPG.

"SPPG itu beli satu kali untuk ngasih minum susu 125 kotak. Satu SPPG. Kalau sekarang ada 10 ribu, tinggal dihitung. Jadi kalau ada isu susu langka di masyarakat, ya bisa jadi karena terserap," ungkap Dadan.

Dadan menilai, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menciptakan permintaan baru (creating demand) sekaligus pasar baru yang pembeliannya dijamin oleh negara. Menurutnya, belum pernah ada program pemerintah yang secara bersamaan mendorong produksi pangan dan menjamin penyerapan hasilnya.

"Belum pernah ada program pemerintah yang mendorong produksi, sekaligus menjamin pembeliannya. Baru ada Bulog, tapi itu hanya untuk beras. Nah, Badan Gizi itu sekarang mendorong semua produk diproduksi, dijamin pembeliannya," katanya.

Karena itu, Dadan mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk melihat peluang besar ini dan kembali ke desa. "Makanya, teman-teman mahasiswa ini, jangan cari kerja di kota, sekarang kembali ke desa. Menciptakan produksi-produksi yang dibutuhkan untuk makan mereka," pungkasnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional