Berita
/
Siaran Pers
/
Siaran Pers Kepala Badan Gizi Nasional
/
Kepala BGN: MBG Tak Sekadar Kenyang, Namun Harus Berdampak
Kepala BGN: MBG Tak Sekadar Kenyang, Namun Harus Berdampak
Nomor: SIPERS-304/BGN/09/2026
Siaran Pers • 3 September 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasJakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak cukup diukur dari jumlah makanan yang didistribusikan maupun banyaknya penerima manfaat. Program tersebut harus memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi sekaligus mendukung capaian pendidikan peserta didik.
Kepala BGN Sudaryono atau Mas Dar mengatakan, MBG dirancang bukan sekadar untuk memastikan anak mendapatkan makanan, tetapi sebagai intervensi yang dapat memberikan perubahan terukur dalam jangka panjang.
“BGN ini tidak hanya ngasih makan orang, kemudian kenyang selesai, enggak. Tapi output dan impact yang kita inginkan adalah si A yang ber-NIK ini, yang sekolah di SD ini, itu kemudian setelah diberikan MBG selama sekian bulan di catatan sistemnya Kementerian Kesehatan bisa kita tarik datanya sehingga kita bisa tahu perkembangan gizinya,” ujar Mas Dar usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi IX DPR RI, Kamis (3/9).
Menurutnya, pendekatan berbasis dampak tersebut membutuhkan integrasi data antara BGN dengan kementerian dan lembaga terkait. Dengan integrasi tersebut, pemerintah dapat melihat perkembangan kondisi penerima manfaat secara lebih terukur setelah mendapatkan intervensi MBG dalam periode tertentu.
Mas Dar menjelaskan, data tersebut nantinya dapat digunakan untuk melihat perubahan status gizi penerima manfaat. Pemerintah dapat mengetahui apakah penerima manfaat yang sebelumnya mengalami kondisi tertentu mengalami perbaikan setelah mengikuti program.
“Yang tadinya kurus tambah gemuk enggak. Yang tadinya underweight itu jadi kemudian normal enggak. Yang tadinya pendek jadi tinggi, enggak, dan lain-lain,” jelasnya.
Tidak hanya aspek gizi, BGN juga ingin melihat dampak MBG terhadap aspek pendidikan. Salah satu indikator yang dapat diperhatikan adalah perubahan semangat dan tingkat kehadiran peserta didik di sekolah.
“Termasuk juga outcome-nya, dia tambah semangat sekolahnya enggak. Yang tadinya tingkat kehadirannya rendah jadi tinggi enggak,” ujar Mas Dar.
Dengan demikian, pelaksanaan MBG diarahkan agar memiliki ukuran keberhasilan yang lebih luas. Program tidak hanya dinilai berdasarkan output, seperti jumlah porsi yang disalurkan, tetapi juga outcome dan impact yang dirasakan penerima manfaat.
Selain memenuhi kebutuhan asupan, MBG juga menjadi bagian dari proses edukasi di lingkungan sekolah. Menurutnya, kebiasaan seperti mencuci tangan dan keterlibatan siswa dalam proses setelah makan merupakan bagian dari edukasi yang menyertai pelaksanaan program.
“Tapi juga di situ ada edukasi. Gurunya juga ngasih edukasi. Cuci tangan. Siswa diminta piket, ngambil ompreng,” jelasnya.
Ia menegaskan, edukasi tersebut bukan dimaksudkan sebagai beban tambahan bagi siswa, melainkan bagian dari pembentukan kebiasaan dan tanggung jawab yang mendukung tujuan program.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional