Berita

/

Berita

/

MBG Dorong Lahirnya Pasar Pangan Baru dan Peternak Baru

MBG Dorong Lahirnya Pasar Pangan Baru dan Peternak Baru

Nomor: SIPERS-382E/BGN/12/2025

Berita 6 Desember 2025

picture-MBG Dorong Lahirnya Pasar Pangan Baru dan Peternak Baru

Jakarta – Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menciptakan permintaan (demand) yang sangat besar, secara fundamental mengubah ekosistem pangan nasional dan memicu lahirnya pasar baru di sektor pertanian dan peternakan. Skala operasional MBG dirancang untuk mendorong kelayakan ekonomi di tingkat lokal melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).


Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa desain MBG adalah berbasis ekosistem dan kelayakan ekonomi, yang bertujuan menciptakan kebutuhan baru yang terstruktur.

“Makan bergizi ini didesain berbasis ekosistem dan juga berbasis kelayakan ekonomi. Makanya tidak heran kalau kita satu SPPG melayani rata-rata 3 ribu, karena itu untuk menciptakan kebutuhan yang secara ekonomi akan menguntungkan. Jadi badan giji ini satu meng-create demand atau new emerging market ya.” Ujar Dadan di Jakarta, Sabtu (6/12).


Skala kebutuhan pangan untuk melayani seluruh SPPG menunjukkan potensi ekonomi yang luar biasa. Dadan memaparkan, untuk memenuhi rata-rata 3.000 penerima manfaat per unit SPPG, kebutuhannya sangat masif. Satu SPPG membutuhkan 5 ton beras per bulan, yang setara dengan 10 ton gabah kering giling. Jika dihitung kebutuhan lahan selama setahun dengan asumsi tiga kali panen, satu SPPG memerlukan 8 hektare luas tanam padi. Untuk komoditas seperti pisang, satu kali penyajian 3.000 porsi membutuhkan 3.000 buah pisang atau setara 150 sisir, yang berarti agar penyediaan pisang kontinu dua kali seminggu, satu SPPG diperkirakan membutuhkan satu setengah hektare pohon pisang. Kebutuhan protein juga sangat signifikan, di mana untuk sekali penyajian 3.000 telur, dibutuhkan sekitar 3.750 hingga 4.000 ekor ayam petelur dalam satu SPPG.


Dadan pun menyoroti bahwa lonjakan permintaan ini, terutama untuk telur dan daging ayam, diperkirakan akan menciptakan defisit pasokan di pasar nasional jika tidak segera diatasi. Sebelum ada MBG, Indonesia surplus telur dan ayam, namun kini diprediksi akan terjadi kekurangan telur sebesar 280.000 ton pada tahun depan.


Untuk menyeimbangkan pasar, BGN mendorong lahirnya peternak baru. Kebutuhan 4.000 ayam per SPPG menuntut adanya sekitar 15.000 peternak baru yang harus lahir dan mampu mendukung program. Selain itu, pakan ayam yang sebagian besar dari jagung juga memicu permintaan besar:


“Saya sudah hitung itu butuh 18 hektare luas panen jagung, agar ayam yang 4.000 bisa dikasih makan. Dan nanti akan ada 25.000 SPPG lebih. Tinggal kalikan saja.”tegas Dadan.


Biro Hukum dan Humas

Badan Gizi Nasional