Keterbatasan Produksi Lokal Tak Hambat Kualitas Susu MBG
Nomor: SIPERS-280A/BGN/10/2025
Berita • 15 Oktober 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNBogor — Di tengah tantangan terbatasnya produksi susu segar dalam negeri, Badan Gizi Nasioal (BGN) memastikan kualitas susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap setara dengan susu segar terbaik.
Langkah ini menjadi bukti bahwa komitmen terhadap gizi anak-anak Indonesia tidak akan terganggu oleh kondisi produksi nasional yang belum sepenuhnya mandiri.
Tim Pakar Bidang Susu Badan Gizi Nasional (BGN) sekaligus Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu, Fakultas Peternakan IPB, Prof. Epi Taufik, mengatakan bahwa kebijakan komposisi susu MBG — dengan minimal 20 persen kandungan susu segar lokal — bukan keputusan kompromi, melainkan strategi berbasis sains.
“Kita tidak menurunkan standar gizi hanya karena keterbatasan bahan baku. Walau kandungan susu segarnya 20 persen, nilai gizinya disusun agar setara dengan susu segar penuh. Kandungan proteinnya, lemaknya, kalsiumnya — semua mengikuti standar susu segar,” ujar Prof. Epi di Bogor, Kamis (15/10).
Menurut Epi, meski produksi susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional, program MBG justru menjadi pemacu kebangkitan industri susu nasional.
“Sebelum MBG, produksi nasional baru sekitar 1 juta ton per tahun. Dengan MBG, permintaan melonjak hingga 8 juta ton per tahun. Artinya, ini momentum besar bagi peternak lokal untuk bangkit,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati, menegaskan bahwa Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program pemberian makanan, melainkan kebijakan gizi yang turut menggerakkan roda ekonomi nasional.
“Program ini menyerap hasil peternak lokal, membuka lapangan kerja baru, dan memberi kepastian pasar bagi pelaku usaha kecil di sektor pangan. Jadi, anak-anak tumbuh sehat, sementara ekonomi desa ikut bergerak maju,” ujar Hida.
Ia menambahkan, BGN telah menyiapkan peta jalan peningkatan kandungan susu segar nasional, di mana persentasenya akan terus dinaikkan seiring peningkatan kapasitas produksi dan populasi sapi perah di dalam negeri.
“Keterbatasan produksi hari ini bukan alasan untuk menurunkan kualitas. Justru ini menjadi titik awal menuju kemandirian susu nasional. Dari MBG, kita membangun rantai nilai yang menguntungkan anak-anak, peternak, dan bangsa,” Tutup Hida. (SPS)
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional