Kemendukbangga: MBG 3B Ujung Tombak Keberhasilan Penurunan Stunting
Nomor: SIPERS-67/BGN/01/2026
Berita • 29 Januari 2026
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan HumasYogyakarta — Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) menekankan bahwa keberhasilan program pemenuhan gizi nasional sangat ditentukan oleh ketepatan sasaran penerima manfaat.
“Sebenarnya yang terpenting dalam pemenuhan gizi adalah sasaran kita. Jika dilihat dari perspektif kebijakan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, persoalan utama negara kita adalah stunting,” ungkap Direktur Bina Institusi Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan BKKBN/Kemendukbangga, Mahyuzar, dalam Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Penyediaan dan Penyaluran Tahun 2026 di Yogyakarta, Kamis (29/1).
Mahyuzar menjelaskan bahwa angka prevalensi stunting pada 2024 berada pada 19,8 persen dan ditargetkan menurun menjadi 18,8 persen pada 2025. Dukungan Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor penting dalam perhitungan Kemendukbangga untuk melihat penurunan stunting di seluruh Indonesia.
Untuk itu, Kemendukbangga menilai pemberian MBG kepada kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, harus menjadi prioritas sebagai ujung tombak penanganan stunting. Kelompok ini dinilai sangat menentukan siklus kehidupan manusia. Apabila kebutuhan gizi kelompok 3B terpenuhi dengan baik, maka risiko terjadinya stunting dapat ditekan secara signifikan dan berkelanjutan.
“3B menjadi prioritas kami karena siklus kehidupan manusia ditentukan oleh 3B. Jika 3B sehat, insyaallah tidak ada stunting di Indonesia,” ujar Mahyuzar.
Selain itu Ia juga mengungkapkan bahwa sejak adanya MBG bagi kelompok 3B, di sejumlah daerah terjadi peningkatan minat ibu-ibu untuk datang ke posyandu.
“Yang terjadi saat ini, tingkat minat masyarakat kelompok 3B untuk datang ke posyandu lebih tinggi sejak adanya MBG. Itu menjadi salah satu indikator keberhasilan kita,” tutup Mahyuzar.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional