Dulu Sering Sisa, Kini Ludes: Petani Malino Bangkit Berkat MBG
Nomor: SIPERS-144H/BGN/03/2026
Berita • 10 Maret 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasMalino, Gowa – Kabut tipis masih menyelimuti dataran tinggi Malino saat para petani mulai memanen sayuran segar dari ladang mereka. Pemandangan yang tampak biasa itu kini menyimpan cerita perubahan besar—hasil panen yang dulu kerap tersisa, kini hampir selalu habis terserap pasar berkat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Perubahan tersebut dirasakan langsung oleh Suing (43) dan istrinya, Risma (29), petani sayur yang telah menggeluti usaha pertanian selama sekitar 10 tahun. Sebelum terlibat dalam rantai pasok MBG, Suing kerap menghadapi persoalan klasik: hasil panen yang tidak sepenuhnya terjual.
“Sebelum ada MBG, kadang kalau panen itu tidak habis terjual, masih ada sisa. Sekarang sejak ada MBG, barang hampir selalu habis, bahkan kadang tidak cukup untuk memenuhi pesanan,” ujar Suing.
Sekitar satu setengah tahun terakhir, Suing mulai menjadi pemasok sayur untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sejak saat itu, permintaan meningkat tajam dan stabil, mendorong produksi dari lahannya ikut melonjak.
Jika sebelumnya ia hanya mampu menjual sekitar satu ton sayuran per hari, kini hasil panennya bisa mencapai lebih dari dua ton untuk memenuhi kebutuhan hingga tujuh sampai delapan SPPG.
Lonjakan permintaan ini juga membuat Suing memperluas lahan tanamnya. Dari yang awalnya hanya sekitar satu hektare, kini berkembang menjadi lebih dari dua hektare.
“Dulu paling jual puluhan kilo saja. Sekarang bisa sampai ratusan kilo bahkan berton-ton karena permintaannya banyak,” katanya.
Tak hanya meningkatkan produksi, perkembangan usaha ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Jika sebelumnya Suing hanya dibantu dua hingga tiga orang, kini ia mempekerjakan hingga sekitar sepuluh orang untuk membantu proses panen dan distribusi.
Risma mengaku kondisi ekonomi keluarga mereka kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya. “Alhamdulillah sekarang lebih baik. Pembelinya lebih banyak dibanding sebelumnya, jadi hasil panen lebih pasti terserap,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Beberapa komoditas seperti brokoli, kembang kol, dan selada membutuhkan waktu tanam lebih lama serta lebih rentan terhadap risiko gagal panen. Namun, Suing tetap optimistis melihat peluang ke depan seiring meningkatnya kebutuhan dari dapur MBG.
Kisah ini menjadi bukti bahwa Program MBG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal—memberi harapan baru bagi petani di dataran tinggi Malino untuk terus tumbuh dan berkembang.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional