Dari Jualan Pinggir Jalan ke SPPG, Pasutri Makassar Bangkit dari Utang
Nomor: SIPERS-144E/BGN/03/2026
Berita • 10 Maret 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasMakassar — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya memberi dampak bagi siswa penerima manfaat, tetapi juga membuka jalan pemulihan ekonomi bagi warga yang terlibat di dalamnya. Di Makassar, pasangan suami istri Mail (39) dan Novi (39) menjadi bukti bagaimana kesempatan kerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mampu mengubah nasib keluarga mereka secara perlahan.
Sebelum bergabung di SPPG Tamalate Maccini Sombala, Mail dan Novi menjalani berbagai pekerjaan serabutan demi bertahan hidup. Dari berjualan telur gulung dan gorengan hingga menjadi kurir penjualan online, penghasilan mereka tak menentu dan jauh dari cukup untuk menghidupi lima anak. “Sehari paling tinggi sekitar Rp80 ribu, itu pun tidak selalu ada. Sering kali kurang,” ungkap Mail.
Keterbatasan ekonomi membuat mereka terjebak dalam lingkaran utang. Untuk menutup kebutuhan harian, keduanya harus terus meminjam hingga jumlah utang menumpuk mencapai puluhan juta rupiah. “Kami sempat bingung bagaimana cara keluar dari kondisi itu,” ujarnya.
Titik balik terjadi saat Novi lebih dulu bergabung di SPPG pada awal operasional dapur, Oktober 2025. Ia memulai dari bagian pemorsian, lalu ikut membantu proses produksi. Tak lama kemudian, Mail menyusul bekerja di tempat yang sama.
Sejak saat itu, kondisi keuangan keluarga mulai berangsur membaik. Penghasilan yang lebih stabil membuat mereka mampu mencicil utang secara rutin. “Sekarang sudah jauh lebih tenang. Kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi, dan utang pelan-pelan berkurang,” kata Novi. Bahkan, untuk pertama kalinya, mereka bisa menyisihkan uang untuk kebahagiaan sederhana bersama anak-anak.
Manfaat MBG juga dirasakan langsung oleh keluarga mereka sebagai penerima program. Anak-anak Mail dan Novi mendapatkan makanan bergizi di sekolah setiap hari, yang secara tidak langsung meringankan beban pengeluaran rumah tangga. “Anak-anak jadi lebih semangat sekolah, dan kami juga terbantu karena tidak perlu menyiapkan bekal setiap hari,” tambah Novi.
Kepala SPPG Tamalate Maccini Sombala, Zulkarnaen, menyebut kisah Mail dan Novi sebagai gambaran nyata dampak sosial program MBG di masyarakat. Ia mengaku baru mengetahui keduanya adalah pasangan suami istri saat mengajukan permohonan jadwal kerja dalam satu shift untuk menghemat biaya transportasi.
“Dari situ kami tahu mereka berjuang bersama. Kami tentu senang jika SPPG bisa menjadi tempat yang membantu warga bangkit secara ekonomi,” ujar Zulkarnaen.
Kisah Mail dan Novi menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi yang memberi harapan baru bagi keluarga prasejahtera. Dengan keberlanjutan program ini, diharapkan semakin banyak masyarakat yang dapat keluar dari kesulitan dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional