BGN Gunakan Pola Menu MBG untuk Jaga Stabilitas Harga Pangan
Nomor: SIPERS-382B/BGN/12/2025
Berita • 6 Desember 2025
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNJakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya memastikan pemenuhan gizi bagi penerima manfaat, tetapi juga memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas harga pangan serta memperkuat ekonomi petani. Dengan pola permintaan harian yang besar dan terstruktur, MBG kini menjadi salah satu instrumen efektif untuk mengatur keseimbangan pasokan di pasar komoditas pangan.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa dampak ekonomi dari pelaksanaan MBG sudah mulai terlihat di berbagai daerah. Menurutnya, pola menu yang diterapkan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) mampu memengaruhi pergerakan harga komoditas secara langsung. “Dan saya kira sekarang banyak pihak yang sudah menyebut baik program ini dan tidak hanya akan memberikan pemenuhan gizi kepada penerima manfaat tapi juga dampak ekonomi yang ditimbulkan dari program ini sudah dirasakan,” ujar Dadan di Jakarta, Sabtu (6/12).
Dadan menjelaskan bahwa mekanisme ini berjalan melalui instruksi penyesuaian menu berdasarkan situasi harga di pasar. Ketika terjadi penurunan harga pada salah satu komoditas, SPPG diarahkan untuk meningkatkan penggunaan bahan tersebut dalam menu harian. “Jadi kalau ada harga kentang yang turun, kami sudah instruksikan kepada seluruh SPPG agar memasak kentang minima 1 kali seminggu. Diharapkan kentang akan naik harganya dan petani akan senang,” tuturnya.
Sebaliknya, ketika salah satu komoditas mengalami kenaikan harga, BGN mengarahkan SPPG untuk menggeser bahan pangan ke alternatif yang lebih stabil agar tidak memberi tekanan tambahan pada pasar. “Nah kemudian ketika harga telur sekarang naik, kita minta agar seluruh SPPG mengikuti hari ikan sehingga bulan ini lebih banyak ikan yang dimasak dibandingkan telur dan ayam supaya harga tetap terkendali,” kata Dadan.
BGN menilai strategi ini memberikan manfaat ganda: petani merasa terbantu karena produk mereka terserap secara rutin, sementara masyarakat luas dapat menikmati harga pangan yang lebih stabil. “Sehingga mudah-mudahan dengan kejadian seperti itu, petaninya akan gembira karena produknya dibeli tapi masyarakat secara umum akan senang karena harga tetap stabil,” tutup Dadan.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional