BGN Evaluasi SPPG di Sumbawa sebagai Langkah Perbaikan Layanan MBG
Nomor: SIPERS-374/BGN/10/2026
Berita • 27 Oktober 2026
Sumber:
Doc. Biro Hukum dan Humas BGNJakarta — Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumbawa Tarano Labuhan Bontong, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyusul kejadian fatal yang dialami sejumlah siswa penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (27/10).
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, mengatakan bahwa sebagai tindak lanjut, BGN telah menghentikan sementara operasional SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong dengan status suspend sedang. Penghentian sementara ini dilakukan sembari menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh instansi terkait sebagai bagian dari proses penelusuran.
“SPPG Sumbawa Tarano Labuhan Bontong saat ini sudah diberikan surat pemberhentian sementara atau suspend dengan kategori sedang. Berkaitan dengan tindak lanjutnya, kami akan menunggu hasil pemeriksaan makanan oleh instansi terkait,” ujar Tysa di Jakarta, Selasa (27/10).
Tysa menjelaskan bahwa evaluasi dilakukan untuk memastikan setiap SPPG menjalankan prosedur pengolahan dan penyajian makanan sesuai standar yang telah ditetapkan. Menurutnya, setiap temuan akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah perbaikan sekaligus memperkuat pengawasan terhadap pelaksanaan program.
“Kami menelusuri setiap tahapan, mulai dari pengolahan hingga penyajian makanan, untuk mengetahui apakah terdapat prosedur yang belum dijalankan sesuai ketentuan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar bagi langkah perbaikan agar standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, BGN juga menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang terdampak, orang tua, dan pihak sekolah atas kejadian tersebut. BGN memahami kekhawatiran yang dirasakan keluarga dan memastikan koordinasi dengan pihak terkait terus dilakukan untuk mendukung penanganan siswa serta mengawal proses evaluasi.
“Kami menyampaikan permohonan maaf kepada para siswa yang terdampak, orang tua, dan pihak sekolah atas kejadian ini. Kami memahami kekhawatiran yang dirasakan keluarga. BGN terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan para siswa mendapatkan penanganan yang diperlukan sekaligus mengawal proses evaluasi agar langkah perbaikan dapat dilakukan secara tepat,” ujar Tysa.
Berdasarkan laporan hingga Selasa (27/10) pukul 22.35 WITA, sebanyak 34 siswa telah menjalani observasi di dua fasilitas pelayanan kesehatan, yakni 32 siswa di Puskesmas Tarano dan dua siswa di Puskesmas Empang. Dalam perkembangan penanganan, kondisi siswa terdampak dilaporkan berangsur membaik dan dua siswa telah diperbolehkan kembali ke rumah.
Sementara itu, berdasarkan investigasi awal, dugaan sementara mengarah pada menu telur saus woku yang disajikan kepada penerima manfaat. Menurut keterangan awal Kepala SPPG, telur direbus sekitar pukul 00.00 WITA, sedangkan prosedur yang seharusnya diterapkan menetapkan proses perebusan dimulai pukul 02.00 WITA.
BGN menegaskan bahwa temuan awal tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan penyebab pasti kejadian. Penelusuran masih berlangsung dan hasil pemeriksaan dari instansi terkait akan menjadi bagian penting dalam menentukan tindak lanjut yang diperlukan.
“Setiap temuan akan ditindaklanjuti melalui evaluasi sesuai ketentuan. Kami juga terus memperkuat pengawasan agar seluruh tahapan pelayanan, mulai dari penyiapan bahan, pengolahan, hingga penyajian makanan, memperhatikan standar keamanan pangan,” tegas Tysa.
BGN menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Puskesmas Tarano, Puskesmas Empang, Pemerintah Kabupaten Sumbawa, Satgas MBG Kabupaten Sumbawa, serta para pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dan desa yang telah membantu penanganan siswa terdampak dan berkomitmen mengawal proses penanganan dan evaluasi hingga penelusuran selesai, sekaligus memperkuat kepatuhan terhadap standar operasional prosedur.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional