Berita

/

Artikel

/

Tak Ada yang Terbuang: Bahan Pangan Dapur SPPG Dimanfaatkan Kembali untuk Warga Sekitar

Tak Ada yang Terbuang: Bahan Pangan Dapur SPPG Dimanfaatkan Kembali untuk Warga Sekitar

Nomor: ARTIKEL-69/BGN/02/2026

Artikel 16 Maret 2026

picture-Tak Ada yang Terbuang: Bahan Pangan Dapur SPPG Dimanfaatkan Kembali untuk Warga Sekitar

Bogor — Langit masih gelap ketika aktivitas mulai terasa di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ciangsana, Gunung Putri. Di dapur inilah para relawan setiap hari menyiapkan ribuan porsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa-siswa di sekolah sekitar.

Suara wajan yang mulai dipanaskan, aroma sayur yang baru dimasak, hingga tumpukan buah segar yang ditata rapi menjadi pemandangan yang akrab setiap pagi. Semua disiapkan dengan satu tujuan: memastikan anak-anak menerima makanan bergizi yang layak.

Namun, di balik kesibukan menyiapkan ribuan porsi makanan itu, ada satu kebiasaan kecil yang tumbuh dari kepedulian para relawan. Mereka berusaha memastikan setiap bahan pangan yang ada dimanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Ketika terdapat bahan baku yang masih segar dan layak konsumsi namun jumlahnya lebih dari kebutuhan produksi, para relawan memilih untuk membagikannya kepada warga yang tinggal di sekitar dapur. Kegiatan ini biasanya dilakukan dalam rangka Jumat Berkah, yang secara perlahan menjadi momen berbagi antara dapur SPPG dan masyarakat sekitar.

Rahmat Hidayat, relawan yang bertugas sebagai leader pemorsian di dapur SPPG, mengatakan bahwa kebiasaan ini muncul dari keinginan sederhana agar bahan pangan yang masih baik tetap bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

“Kalau misalkan ada bahan baku seperti buah-buahan atau sayuran yang jumlahnya masih ada lebih, biasanya kita bagikan ke warga sekitar saat Jumat berkah,” ujar Rahmat (16/3).

Buah yang dibagikan pun beragam. Pisang, salak, jeruk, hingga lengkeng dan anggur semuanya merupakan buah segar yang sebelumnya disiapkan sebagai bagian dari menu bergizi bagi para siswa.

Tak hanya buah, sayur mayur segar juga sering dibagikan kepada warga sekitar. Bagi sebagian warga, bahan-bahan tersebut kemudian dimasak di rumah untuk keluarga. Ada pula yang mengolahnya kembali menjadi hidangan sederhana yang dibagikan lagi kepada tetangga sekitar.

Dari dapur yang setiap hari memasak untuk ribuan anak sekolah, bahan pangan itu kemudian menemukan jalannya sendiri untuk menjangkau lebih banyak orang.

Rahmat mengatakan, bagi para relawan dapur, langkah kecil ini terasa berarti karena mereka tahu bahan pangan yang ada tetap bisa dimanfaatkan dengan baik.

“Kadang kalau masih ada bahan yang bisa dimanfaatkan, kita bagikan atau diolah lagi supaya tetap bermanfaat untuk warga sekitar,” katanya.

Bagi warga sekitar, kehadiran dapur SPPG bukan hanya membawa aktivitas baru di lingkungan mereka. Lebih dari itu, dapur ini juga menghadirkan ruang kebersamaan yang sederhana tempat di mana relawan dan warga saling berbagi.

Dari buah yang dibawa pulang oleh warga, sayur yang dimasak di dapur rumah, hingga makanan yang kembali dibagikan kepada tetangga, semua menjadi bagian dari cerita kecil yang tumbuh di sekitar dapur MBG.

Di tengah kesibukan menyiapkan makanan bergizi untuk para siswa, para relawan juga menunjukkan bahwa kepedulian bisa hadir dalam cara-cara sederhana. Dari dapur yang setiap pagi mengepul, manfaatnya tidak hanya sampai ke sekolah-sekolah, tetapi juga menyentuh kehidupan warga di sekitarnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional