Berita

/

Artikel

/

Seporsi MBG dan Harapan Adnan untuk Bisa Berjalan

Seporsi MBG dan Harapan Adnan untuk Bisa Berjalan

Nomor: ARTIKEL-111/BGN/10/2026

Artikel • 3 Oktober 2026

picture-Seporsi MBG dan Harapan Adnan untuk Bisa Berjalan

Takalar — Bagi Adnan, empat tahun, setiap perkembangan kecil adalah sebuah pencapaian. Ketika ia mulai mampu memegang benda, memahami saat diajak berbicara, atau memanggil “mama”, “bapak”, dan “nenek”, ada kebahagiaan besar yang dirasakan keluarganya.

Adnan memang tumbuh dengan perjalanan yang berbeda. Di usianya sekarang, ia belum mampu berjalan dan masih mengalami keterbatasan dalam berbicara. Namun, di balik keterbatasan itu, ada perkembangan yang terus dinantikan dan dirayakan oleh keluarganya.

Bagi Firda, ibu Adnan, harapan itu tumbuh dari hal-hal sederhana. Salah satunya ketika melihat anaknya mulai lebih bersemangat makan.

Firda mulai mengetahui kondisi Adnan ketika putranya berusia sekitar lima bulan. Saat itu, kepala Adnan belum mampu menyangga dengan baik. Ia kemudian membawa Adnan ke rumah sakit untuk diperiksa. Dari pemeriksaan tersebut, Firda mengetahui bahwa Adnan pernah mengalami kejang ketika baru berusia empat hari.

“Jadi ini pengaruhnya, ndak bisa jalan, ndak bisa duduk,” tutur Firda.

Adnan kemudian menjalani terapi selama lebih dari satu tahun. Perlahan, terapi tersebut menunjukkan hasil. Jika sebelumnya ia belum mampu memegang benda, kini tangannya mulai dapat menggenggam sesuatu meski belum lama. Kemampuan memahami percakapan juga mulai tumbuh.

“Sekarang sudah paham kalau diajak cerita, tapi belum pi bisa na kasih keluar kasihan. Tapi eh bisa mi panggil mama sama bapaknya. Itu ji sama neneknya, tiga ji,” kata Firda.

Bagi Firda, tiga panggilan sederhana itu memiliki arti yang besar. Setiap kemampuan baru yang muncul menjadi tanda bahwa Adnan terus berkembang.

Di tengah proses tersebut, asupan makanan menjadi perhatian penting bagi keluarga. Sebelum menerima Makan Bergizi Gratis (MBG), Firda mengatakan Adnan cenderung malas makan. Waktu makannya pun kerap terlewat sehingga berat badannya sulit bertambah.

Keadaan itu mulai berubah setelah Adnan menerima MBG.

“Kalau ada MBG mau sekali mi makan. Menangis ki kalau ndak dikasih makan,” ujar Firda.

Menurut Firda, Adnan justru lebih bersemangat ketika melihat makanan MBG. Ia juga menyukai buah-buahan yang diberikan, terutama pisang, jeruk, dan buah naga. Tekstur makanan yang lebih lembut menjadi hal yang penting karena menyesuaikan dengan kemampuan Adnan dalam mengonsumsi makanan.

“Dia paling suka telur. Yang baik dicerna itu kalau eh ayam kan ndak anu pencernaannya. Eh buah-buahannya pisang, jeruk, buah naga. Itu ji yang lembut-lembut karena suka,” tutur Firda.

Perubahan itu juga terlihat dari berat badan Adnan.

Dalam dua bulan menerima MBG, berat badan Adnan meningkat hampir satu kilogram. Bagi orang lain, angka tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Firda, kenaikan itu sangat berarti. Sebelumnya, berat badan Adnan cenderung tidak banyak berubah.

“Biasanya menetap ji berat badannya. Palingan naik 2 ons ji. Jalan di tempat biasanya,” kata Firda.

Kini, berat badan Adnan sudah lebih dari 10 kilogram dan mendekati 11 kilogram. Sebelumnya, berat badannya pernah berada di angka sembilan kilogram dan ia masuk kategori stunting.

Kenaikan berat badan tersebut membuat Firda semakin memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Ia rutin memantau berat badan Adnan melalui Posyandu maupun dengan menimbangnya di rumah.

“Selain juga di Posyandu, ada juga timbangan anunya sering ku kasih timbang, hilang lagi atau tidak berat badannya,” jelas Firda.

Bagi Firda, setiap perubahan pada tubuh Adnan penting untuk diperhatikan. Ia ingin memastikan berat badan anaknya terus bertambah dan tidak kembali turun.

Dokter juga menjadi rujukan keluarga dalam memantau perkembangan Adnan. Menurut Firda, kondisi Adnan masih belum sesuai dengan perkembangan anak seusianya. Karena itu, kenaikan berat badan menjadi salah satu hal yang terus ia harapkan.

“Harapannya semoga eh adanya MBG kan kata dokter kalau naik berat badannya bisa eh anu kepalanya toh, eh bisa kuat. Semoga berat badannya naik, bisa jalan,” ujar Firda.

Harapan Firda terdengar sederhana: berat badan Adnan terus bertambah, tubuhnya semakin kuat, dan suatu hari ia bisa berjalan.

Namun bagi seorang ibu, harapan itu tidak pernah sederhana.

Setiap kali Adnan mau makan, setiap kali berat badannya bertambah, dan setiap kali ia menunjukkan kemampuan baru, ada keyakinan yang ikut tumbuh dalam diri Firda. Bahwa perkembangan sekecil apa pun layak disyukuri dan diperjuangkan.

“Alhamdulillah berat badannya juga naik. Sangat-sangat membantu adanya MBG,” ucap Firda.

Kini, Firda masih menanti langkah-langkah kecil berikutnya dari putranya. Ia belum tahu kapan Adnan akan mampu berdiri dan berjalan. Tetapi ia memilih untuk terus mendampingi, memantau, dan memberikan yang terbaik bagi tumbuh kembang anaknya.

Di rumah sederhana itu, harapan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar. Kadang, harapan datang dari seporsi makanan yang habis dimakan, angka timbangan yang perlahan naik, atau sebuah panggilan kecil “mama” yang berhasil diucapkan.

Bagi Adnan dan keluarganya, setiap kemajuan adalah langkah. Dan di setiap langkah kecil itu, ada harapan untuk suatu hari nanti melihat Adnan berdiri dan berjalan dengan kakinya sendiri.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?