Saprudin: Menjaga Dapur MBG, Merawat Harapan di Rumah
Nomor: ARTIKEL-81/BGN/04/2026
Artikel • 24 Juni 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasBogor — Pagi belum sepenuhnya ramai di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jogjogan, Cisarua. Namun langkah Saprudin sudah lebih dulu hadir. Dengan seragam sederhana dan tatapan yang selalu waspada, pria 53 tahun itu menyusuri area dapur, memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
Bagi sebagian orang, ia hanyalah petugas keamanan. Namun bagi Saprudin atau yang akrab disapa Udin, pekerjaan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
“Alhamdulillah, saya kerja di sini dari awal buka. Sampai sekarang saya merasa nyaman dan senang,” ujarnya.
Selama 12 jam setiap hari, Udin menjaga dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengawasi keluar-masuk orang dan barang, memastikan prosedur dijalankan, dan menjaga ritme operasional tetap aman. Tapi di balik rutinitas itu, ada satu hal yang selalu ia bawa pulang: harapan.
Sebelum bergabung di SPPG, Udin bekerja sebagai penjaga di kawasan wisata alam. Penghasilannya tak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kini, di rumah sederhana yang berjarak sekitar 15 menit dari tempat kerjanya, ia tinggal bersama istri dan tiga anak. Anak sulungnya berusia 12 tahun, sementara si bungsu baru genap dua tahun.
Ketiga anaknya kini menjadi bagian dari penerima manfaat MBG. Perubahan yang ia rasakan bukan sesuatu yang rumit atau penuh angka. Justru sederhana, tapi sangat berarti.
“Dulu anak saya susah bangun pagi. Sekarang jam setengah enam sudah bangun sendiri,” tuturnya, dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Pagi di rumah Udin kini berbeda. Ada semangat baru yang tumbuh perlahan. Anak-anaknya berangkat sekolah dengan antusias, bukan hanya untuk belajar, tetapi juga karena mereka tahu akan mendapatkan makanan bergizi. Sesuatu yang dulu tidak selalu hadir, kini menjadi bagian dari keseharian.
Susu yang sebelumnya hanya dinikmati sesekali, kini bisa mereka rasakan lebih sering. Bagi sebagian orang, ini mungkin terlihat biasa. Namun bagi Udin, perubahan kecil itu adalah kemewahan yang dulu sulit dijangkau.
Momen yang paling ia ingat terjadi suatu malam, sepulang bekerja. Salah satu anaknya sudah menunggu di rumah dengan wajah penuh kegembiraan.
“Dia bilang, ‘Ayah, aku dapat MBG!’,” kenangnya pelan. “Sebagai orang tua, rasanya senang sekali.”
Di balik seragam yang ia kenakan, Saprudin adalah seorang ayah yang sedang berjuang dalam diam. Menjaga dapur MBG, sekaligus menjaga masa depan anak-anaknya.
Baginya, program ini bukan sekadar kebijakan. Ini adalah harapan yang nyata.
“Program ini sangat baik. Harus kita jaga sama-sama kualitasnya dan kuantitasnya supaya benar-benar bermanfaat untuk masyarakat, terutama anak-anak,” ujarnya.
Di SPPG Jogjogan, Saprudin bukan hanya bagian dari sistem. Ia adalah wajah dari dampak nyata sebuah program negara yang tidak hanya bekerja di level kebijakan, tetapi hadir hingga ke ruang paling personal, yaitu “KELUARGA”
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional