Berita

/

Artikel

/

Ribuan Porsi, Satu Harapan: Bangkitnya Usaha Kecil Lewat MBG

Ribuan Porsi, Satu Harapan: Bangkitnya Usaha Kecil Lewat MBG

Nomor: ARTIKEL-100/BGN/05/2026

Artikel 17 Mei 2026

picture-Ribuan Porsi, Satu Harapan: Bangkitnya Usaha Kecil Lewat MBG

Makassar — Di balik setiap paket makanan bergizi yang diterima anak-anak, ada cerita yang jarang terlihat tentang tangan-tangan yang bekerja sejak subuh, dapur yang tak pernah benar-benar dingin, dan harapan yang perlahan tumbuh kembali.

Bagi Rismawati, seorang pelaku UMKM rumahan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar suplai makanan. Program ini menjadi ruang hidup baru bagi ekonomi kecil yang sebelumnya nyaris terhenti sebuah cahaya di kala gelap, sekaligus harapan untuk bangkit kembali.

Awalnya, ia hanya mencoba bertahan dari sepinya pesanan. Namun sejak terlibat dalam dapur MBG, roda usahanya kembali berputar, bahkan dalam skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Setiap hari, ia memproduksi ribuan porsi makanan ringan bergizi angka yang dulu tak pernah ia bayangkan.

Momentum itu terasa semakin kuat saat bulan Ramadan, ketika kebutuhan makanan, termasuk makanan kering, meningkat. Rismawati turut memproduksi dalam jumlah besar untuk mendukung operasional dapur MBG, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan bagi para penerima manfaat.

Seiring meningkatnya produksi, tantangan pun ikut membesar. Mulai dari mencari bahan baku dalam jumlah besar, menjaga kualitas, hingga memastikan distribusi berjalan tepat waktu. Namun baginya, kualitas tetap nomor satu.

Bahan-bahan dipilih dengan cermat, pisang asli tanpa campuran berlebih, susu sebagai pengganti bahan tambahan, serta proses produksi yang tetap mempertahankan standar rumahan yang higienis. Baginya, makanan bukan sekadar produk, tetapi tanggung jawab.

Dampak ekonomi yang dirasakan pun nyata. Pendapatan keluarga menjadi lebih stabil, bahkan perlahan mampu menutup tanggungan utang. Lebih dari itu, ia kini membuka peluang kerja bagi orang lain.

Ketika pesanan meningkat hingga ribuan porsi, ia mulai melibatkan warga sekitar. Dari yang awalnya hanya dibantu suami, kini ia mempekerjakan hingga 7–8 orang. Kebanyakan ibu rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.

“Kalau ada orderan, mereka saya panggil bantu. Jadi mereka juga ikut senang,” tuturnya.

Di sinilah makna MBG menjadi lebih luas. Bukan hanya memberi makan, tetapi juga membuka peluang. Dapur kecil itu kini menjadi ruang kolaborasi, tempat ekonomi keluarga bertumbuh dan solidaritas terbentuk.

“Jadi bukan cuma saya yang terbantu, tapi mereka juga,” menjadi gambaran sederhana dari efek domino yang tercipta.

Inilah wajah lain dari MBG. Sebuah program yang tidak hanya menyasar penerima manfaat langsung, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Ia menyadari bahwa keberlanjutan program sangat penting. Ketika beberapa jenis menu seperti makanan kering sempat dihentikan, ia merasakan dampaknya secara langsung.

Harapannya sederhana, ada ruang bagi UMKM kecil untuk terus berkontribusi dalam skema program. Rismawati percaya, dengan perbaikan sistem dan kolaborasi yang lebih baik, MBG dapat menjadi model pemberdayaan yang berkelanjutan. Baginya, dapur bukan lagi sekadar tempat memasak, melainkan ruang perubahan tempat ekonomi keluarga diperbaiki, peluang diciptakan, dan masa depan perlahan dibangun.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?