Berita

/

Artikel

/

Menembus Malam dan Jalan Berliku, Perjuangan Yuli Menjadi Relawan SPPG di Samigaluh

Menembus Malam dan Jalan Berliku, Perjuangan Yuli Menjadi Relawan SPPG di Samigaluh

Nomor: ARTIKEL-104/BGN/05/2026

Artikel 24 Mei 2026

picture-Menembus Malam dan Jalan Berliku, Perjuangan Yuli Menjadi Relawan SPPG di Samigaluh

Kulon Progo — Saat sebagian besar warga Samigaluh terlelap, Wefi Yuliani atau Yuli justru memulai perjalanannya. Pukul sebelas malam, perempuan 42 tahun itu menghidupkan sepeda motor tuanya, menuruni jalan berliku di kawasan perbukitan Samigaluh, Kulon Progo. Dingin malam, gerimis, hingga ancaman longsor di tepi jalan menjadi bagian dari rutinitas yang ia jalani demi menjalankan tugas sebagai relawan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Samigaluh.

Sudah hampir setahun Yuli menjalani aktivitas tersebut. Dari rumahnya di daerah perbukitan, ia menempuh perjalanan sekitar lima kilometer menuju dapur MBG. Kondisi cuaca sering kali menentukan waktu keberangkatannya. Ketika langit mulai mendung, ia memilih berangkat lebih awal agar perjalanan lebih aman.

“Kalau berangkat kerja itu kadang lihat situasi, ya. Jadi, kalau mau hujan itu saya agak maju sedikit, maju ambil jam 10-11 malam. Jadi, sementara kan masuknya jam 12,” jelas Yuni.

Perjalanan malam yang gelap dan jalanan menurun bukan perkara mudah. Namun Yuni tetap melaluinya setiap hari. Baginya, pekerjaan sebagai relawan MBG menjadi harapan baru setelah sebelumnya hanya bekerja serabutan membantu katering dengan penghasilan yang tidak menentu.

Sebelum bergabung dengan dapur MBG, Yuli mengaku pekerjaannya di katering sangat bergantung pada jumlah pesanan. Dalam seminggu, ia terkadang hanya bekerja sekali. Kondisi semakin sulit setelah pandemi Covid-19 ketika pesanan katering menurun drastis.

Di tengah ketidakpastian itu, Yuli mendengar kabar tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari televisi dan cerita tetangga. Ia kemudian memberanikan diri mendaftar sebagai relawan dapur MBG di Samigaluh.

“Tadinya coba-coba, ya harapannya besar. Ternyata diterima, alhamdulillah, sampai sekarang," ujar Yuni.

Setiap hari, Yuli mulai bekerja sejak tengah malam. Ia bertugas mengolah lauk nabati seperti tahu dan tempe, mulai dari membumbui hingga menggoreng, sebelum makanan didistribusikan pada pagi hari. Baru sekitar pukul delapan pagi ia bisa kembali pulang ke rumah melakukan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga.

Kurangnya waktu istirahat menjadi tantangan tersendiri. Rasa jenuh dan takut terkadang muncul, terlebih ketika harus berkendara sendirian di tengah malam melewati jalan berliku, curam, gelap dan rawan longsor. Namun Yuli memilih bertahan demi keluarganya.

"Kadang jenuh ada, takut juga ada. Tapi kalau pikirnya untuk kebutuhan keluarga, ya sudah, semangat lagi," katanya.

Meski melelahkan, Yuli merasa pekerjaannya di dapur MBG membawa perubahan besar dalam hidupnya. Kini ia memiliki penghasilan tetap yang membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak-anaknya.

“Alhamdulillah sekarang ada gaji tetap. Bisa dibagi untuk kebutuhan anak dan rumah,” ujarnya.

Bagi Yuli, dapur MBG bukan sekadar tempat bekerja. Dari dapur sederhana di Samigaluh itulah ia menjaga harapan tetap hidup, meski harus menembus malam dan jalan berliku setiap hari.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?