Kisah Marbot Masjid 99 Asmaul Husna Terbantu MBG, Anak Tak Perlu Bawa Bekal Lagi
Nomor: SIPERS-144G/BGN/03/2026
Artikel • 10 Maret 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasMakassar – Kumandang adzan menggema dari Masjid 99 Asmaul Husna yang berdiri megah di kawasan Center Point of Indonesia (CPI). Di sela suara yang menenangkan itu, ada sosok-sosok sederhana yang setia menjaga kebersihan dan kenyamanan rumah ibadah, sekaligus menyimpan kisah tentang manfaat nyata Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi keluarga mereka.
Salah satunya adalah Jumriani (35), seorang marbot yang telah empat tahun mengabdikan diri merawat masjid ikonik tersebut. Rutinitasnya tak ringan. Ia bekerja dengan sistem giliran, dua hari bertugas penuh sebelum kembali ke rumahnya di Kabupaten Gowa. Di tengah kesibukan itu, satu hal yang selalu menjadi pikirannya adalah kebutuhan makan sang anak yang kini duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar.
Dalam setahun terakhir, beban itu mulai terasa lebih ringan. Sang anak kini menjadi salah satu penerima manfaat Program MBG di sekolahnya.
“Ya terbantu sih. Anak sudah tidak bawa bekal nasi lagi karena di sekolah sudah ada MBG,” ujar Jumriani di Makassar, Selasa (10/3).
Sebelum ada program tersebut, Jumriani harus menyiapkan bekal setiap pagi atau memberi uang jajan sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per hari. Kini, kebutuhan itu berkurang karena makanan utama telah disediakan di sekolah.
Perubahan ini mungkin terlihat sederhana, namun bagi keluarga seperti Jumriani, dampaknya cukup signifikan. Selain mengurangi pengeluaran harian, ia juga merasa lebih tenang karena anaknya mendapatkan asupan makanan yang lebih terjamin.
Meski tidak selalu mencicipi langsung menu yang disajikan, Jumriani kerap melihat makanan yang dibawa pulang oleh anaknya—mulai dari roti, buah, hingga susu kemasan. Dari situ, ia menilai program MBG telah dirancang dengan cukup baik.
“Awalnya saya juga kagum melihat menunya, dengan anggaran begitu bisa ada buah, roti, kadang juga susu,” katanya.
Namun demikian, ia berharap kualitas dan variasi menu dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, keberagaman makanan penting agar anak-anak tetap antusias dan tidak menyisakan makanan.
“Kalau bisa menunya dimaksimalkan lagi, supaya anak-anak juga lebih semangat makan dan tidak ada yang terbuang,” tutur Jumriani.
Kisah Jumriani menjadi salah satu potret bagaimana Program MBG tak hanya menyasar pemenuhan gizi anak, tetapi juga membantu meringankan beban ekonomi keluarga, terutama bagi pekerja sektor informal yang menggantungkan hidup dari penghasilan harian.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional