Berita

/

Artikel

/

“Kalau Bahannya Aman, Bukan Hanya Senang Tapi Juga Tenang”

“Kalau Bahannya Aman, Bukan Hanya Senang Tapi Juga Tenang”

Nomor: ARTIKEL-101/BGN/05/2026

Artikel 17 Mei 2026

picture-“Kalau Bahannya Aman, Bukan Hanya Senang Tapi Juga Tenang”

Makassar — Di sebuah dapur sederhana, aroma bolu pisang kukus perlahan menguar. Bukan sekadar wangi makanan, tapi juga wangi perjuangan. Dari sinilah, seorang ibu rumah tangga merajut kembali harapan bukan hanya untuk keluarganya, tetapi juga untuk ribuan anak yang menikmati hasil olahannya setiap hari.

Saat pandemi Covid-19 menyerang, kondisi usaha Rismawati sempat terpuruk. Pesanan menurun, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu, hingga ia mendengar tentang dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Awalnya hanya mencoba, bergabung sebagai relawan sekaligus penyedia makanan ringan. Tak disangka, langkah kecil itu menjadi titik balik besar dalam hidupnya.

Pada bulan Ramadan lalu, Rismawati turut memproduksi makanan kering untuk mendukung kebutuhan dapur MBG, seperti bolu pisang, puding susu, hingga kudapan tradisional berbahan alami. Ia memastikan asupan tetap tersedia bagi penerima manfaat di tengah suasana ibadah. Namun, yang membuatnya berbeda bukan hanya soal variasi menu, melainkan komitmennya terhadap kualitas gizi. Baginya, menyajikan makanan yang aman jauh lebih penting daripada sekadar lezat.

Ia memilih untuk tidak menggunakan soda dalam adonan, bahan yang lazim dipakai agar kue mengembang dan tampak menarik. Sebagai gantinya, ia menggunakan susu agar hasilnya lebih lembut, sehat, dan aman dikonsumsi anak-anak.

“Ini untuk anak-anak sekolah, jadi saya pikir harus yang terbaik,” kira-kira begitu prinsip Rismawati yang selalu ia pegang dalam setiap adonan.

Kesadaran bahwa makanannya dikonsumsi anak-anak dari berbagai jenjang, bahkan ibu hamil, membuatnya semakin berhati-hati dalam memilih bahan. Ia juga aktif berdiskusi dengan ahli gizi untuk memastikan setiap menu memenuhi standar kesehatan. Namun, dampak dari MBG tak berhenti di dapurnya.

Momen paling membahagiakan baginya bukan sekadar menerima pesanan dalam jumlah besar, melainkan saat mendengar respons anak-anak. Ketika mereka mengatakan makanannya enak dan berbeda, ia tahu bahwa usahanya tidak sia-sia. Racikan tangannya bukan hanya mendukung program prioritas, tetapi juga menghadirkan rasa bahagia yang lahir dari rasa aman.

Ia berharap program ini terus berlanjut dan semakin berkembang, terutama dalam mendukung UMKM kecil seperti dirinya. Baginya, MBG bukan sekadar program pemerintah, melainkan jembatan yang menghubungkan dapur sederhana dengan masa depan generasi bangsa.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?