“Hari Ini Menunya Apa, Bu?”, MBG Pembawa Sejuta Ceria di SLB B YPAC Banda Aceh
Nomor: ARTIKEL-112/BGN/10/2026
Artikel • 20 Oktober 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasAceh — “Hari ini menunya apa, Bu?” Pertanyaan sederhana itu kerap terdengar dari para siswa SLB B YPAC Banda Aceh setiap kali tiba di sekolah. Sebelum pelajaran dimulai, mereka sudah tak sabar mengetahui hidangan yang akan disantap hari itu melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Bagi mereka, kehadiran makanan di sekolah bukan sekadar mengisi perut, melainkan juga menjadi bagian dari keseharian yang dinanti dengan penuh antusiasme.
Nurhasanah, guru Bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMA di SLB-B YPAC Banda Aceh, menyaksikan langsung keceriaan tersebut. Sejak mulai mengajar pada 2013, ia telah mendampingi para siswa dalam berbagai aktivitas pembelajaran. Baginya, pelaksanaan MBG menghadirkan perubahan yang berarti, terutama dalam membantu memenuhi kebutuhan makan anak-anak selama berada di sekolah.
Sebelum MBG hadir, sebagian siswa mengandalkan uang jajan yang diberikan orang tua untuk membeli makanan di kantin. Namun, uang tersebut tidak selalu mencukupi kebutuhan mereka. Ada pula siswa yang berangkat tanpa sarapan, terutama anak-anak yang tinggal cukup jauh dari sekolah, seperti di wilayah Aceh Besar.
“Kadang-kadang rumahnya yang jauh, di Aceh Besar belum sarapan,” ujar Nurhasanah.
Para siswa umumnya telah tiba di sekolah sejak pukul 07.15 WIB. Dengan waktu keberangkatan yang cukup pagi, sebagian anak tidak sempat sarapan sebelum memulai aktivitas belajar. Karena itu, kehadiran MBG disambut dengan sukacita, baik oleh siswa maupun para guru yang setiap hari mendampingi mereka.
Kini, anak-anak dapat menikmati makanan yang disediakan di sekolah. Setiap kali hidangan datang, antusiasme mereka terlihat jelas. Terlebih ketika menu yang tersaji merupakan makanan kesukaan atau dilengkapi buah-buahan. Tak jarang, rasa penasaran itu muncul jauh sebelum waktu makan tiba, ketika siswa mulai menanyakan hidangan yang akan mereka nikmati hari itu.

Bagi sebagian keluarga, menyediakan makanan yang beragam setiap hari bukanlah perkara mudah. Nurhasanah menuturkan bahwa sejumlah siswa berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Dalam kondisi tersebut, kesempatan menikmati aneka hidangan, termasuk daging dan buah-buahan, menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak.
Melalui MBG, siswa memiliki kesempatan untuk menikmati makanan yang beragam selama berada di sekolah. Lebih dari itu, program ini turut membantu orang tua dalam memenuhi kebutuhan makan anak ketika mereka mengikuti kegiatan pembelajaran.
Keceriaan itu berlanjut ketika waktu makan tiba. Siswa tingkat SMP dan SMA berkumpul di aula sekolah untuk menikmati hidangan bersama. Di tengah suasana tersebut, para guru tidak hanya mendampingi anak-anak menyantap makanan, tetapi juga membimbing mereka membaca doa sebelum makan serta membiasakan tata cara makan yang baik sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Momen makan bersama pun menjadi ruang belajar di luar kelas. Anak-anak berkesempatan membangun kebiasaan baik, mengikuti arahan guru, dan menikmati kebersamaan dengan teman-teman mereka. Dengan demikian, waktu makan menjadi bagian dari keseharian sekolah yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.
Sebagai guru di sekolah luar biasa, Nurhasanah memahami bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan dan kondisi yang berbeda, termasuk dalam hal makanan. Karena itu, perhatian terhadap asupan anak tetap diperlukan, dengan melibatkan pihak sekolah dan orang tua untuk memastikan makanan yang dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Menurut Nurhasanah, menu MBG yang diterima sekolah sejauh ini cukup sesuai dengan kebutuhan para siswa. Meski demikian, selera setiap anak tidak selalu sama. Sebagian siswa, misalnya, masih kurang menyukai sayuran hijau. Sebaliknya, hidangan yang sesuai dengan selera mereka biasanya disambut dengan semangat lebih besar.
Antusiasme anak-anak juga menjadi pemandangan yang menggembirakan bagi para guru. Nurhasanah menuturkan bahwa siswa umumnya tetap datang ke sekolah selama program berlangsung, kecuali ketika sedang sakit. Bagi para pendidik yang setiap hari membersamai mereka, semangat anak-anak dalam menyambut hidangan menjadi bagian kecil dari keseharian yang menghadirkan kebahagiaan tersendiri.
Setelah lebih dari satu dekade mengabdikan diri sebagai guru, Nurhasanah berharap MBG dapat terus berlanjut dan ditingkatkan pada masa mendatang. Ia mengapresiasi perhatian pemerintah dalam menyediakan makanan bagi siswa, khususnya anak-anak yang belum sempat sarapan sebelum berangkat ke sekolah.
“Harapan kami ya untuk ke depan, apabila MBG dilanjutkan kualitas tetap dijaga, itu harapan kami,” katanya.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada pemerintah atas pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, tersedianya makanan di sekolah membantu anak-anak memenuhi kebutuhan makan selama mengikuti pembelajaran.
Bagi Nurhasanah, makna MBG tidak berhenti pada hidangan yang tersaji setiap hari. Ada antusiasme yang tumbuh ketika anak-anak menanyakan menu, ada keceriaan saat makanan datang, dan ada kebersamaan yang terjalin ketika mereka duduk menikmati hidangan di aula sekolah.
Di SLB-B YPAC Banda Aceh, hal-hal sederhana itu menjadi bagian dari pengalaman berharga bagi para siswa. Di tengah kondisi keluarga yang beragam, tersedianya makanan di sekolah memberi mereka kesempatan untuk menikmati hidangan sebelum belajar sekaligus membangun kebiasaan baik bersama teman-teman.
Dari pertanyaan sederhana tentang menu hari itu, tersimpan cerita tentang perhatian, kebersamaan, dan harapan. Bagi para siswa, MBG menjadi sesuatu yang dinanti dalam keseharian mereka. Sementara bagi Nurhasanah dan para guru lainnya, keceriaan anak-anak tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap kebutuhan dasar siswa merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional