Berita

/

Artikel

/

Dulu Hanya Bantu-Bantu, Kini Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Dulu Hanya Bantu-Bantu, Kini Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Nomor: ARTIKEL-106/BGN/05/2026

Artikel 24 Mei 2026

picture-Dulu Hanya Bantu-Bantu, Kini Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Kulon Progo — Kehidupan Wefi Yuliani atau Yuli berubah drastis setelah suaminya mengalami kecelakaan saat bekerja sebagai buruh panggul kayu. Sejak saat itu, perempuan 42 tahun asal Samigaluh, Kulon Progo, tersebut harus mengambil peran sebagai tulang punggung utama keluarga.

Peristiwa itu masih membekas dalam ingatan Yuli. Suaminya terjatuh ke jurang sedalam sekitar 10 meter saat mengambil bambu di kawasan perbukitan, yang mengakibatkan kaki dan tangannya patah.

“Jatuh ambil bambu, jadi bambunya agak miring, nyangkut tapi itu yang mau diambil. Kayu pijakannya gak kuat bawahnya jurang ada 10 meter,” kenang Yuli.

Sudah lebih dari setahun sang suami tidak bisa bekerja akibat kecelakaan tersebut. Sejak itu, tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga perlahan berpindah ke pundak Yuli.

“Kalau dulu saya cuma bantu-bantu untuk kebutuhan dapur. Kalau sekarang harus semua, tapi sekarang ada MBG masih ada yang diharapkan," tuturnya lirih.

Di rumah sederhana mereka, Ia tinggal bersama suami, dua anak, dan mertua yang rumahnya berdekatan. Anak pertamanya kini duduk di bangku kelas 9 SMP, sedangkan anak keduanya masih kelas 1 SD dan semuanya bertumpu pada Yuli.

Sebelum bergabung dengan dapur MBG, Yuli bekerja serabutan membantu katering dengan penghasilan yang tidak menentu. Dalam seminggu, ia kadang hanya mendapat pekerjaan sekali. Kondisi semakin sulit setelah pandemi Covid-19 ketika pesanan katering menurun.

Harapan mulai muncul ketika Yuli mendengar adanya lowongan relawan dapur MBG di Samigaluh. Berbekal keberanian, ia mencoba mendaftar dan akhirnya diterima.

“Tadinya coba-coba, ya harapannya besar. Ternyata diterima, alhamdulillah, sampai sekarang," ujarnya.

Kini, setiap malam Yuli berangkat bekerja menuju dapur SPPG 01 Samigaluh. Ia mulai bekerja sekitar pukul 12 malam hingga pagi hari untuk menyiapkan lauk nabati seperti tahu dan tempe.

Rutinitas bekerja hampir semalaman tentu bukan hal mudah. Rasa lelah, jenuh, bahkan takut kerap datang menghampiri. Namun Yuli terus bertahan demi keluarganya.

"Kadang jenuh ada, takut juga ada. Tapi kalau pikirnya untuk kebutuhan keluarga, ya sudah, semangat lagi," katanya.

Di tengah ujian hidup yang ia jalani, pekerjaan sebagai relawan MBG menjadi penopang harapan baru bagi keluarganya. Kini Yuli memiliki penghasilan tetap yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.

“Alhamdulillah sekarang ada gaji tetap. Bisa dibagi untuk kebutuhan anak dan rumah,” ujarnya.

Bagi Yuli, Program MBG bukan hanya soal pekerjaan. Program itu menjadi penyambung harapan bagi keluarganya untuk terus bertahan dan melanjutkan hidup di tengah cobaan yang datang silih berganti.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?