Berita

/

Artikel

/

Dulu Cemas Anak Tak Makan, Kini Isma Menjadi Penjaga di Baliknya

Dulu Cemas Anak Tak Makan, Kini Isma Menjadi Penjaga di Baliknya

Nomor: ARTIKEL-86/BGN/04/2026

Artikel 25 April 2026

picture-Dulu Cemas Anak Tak Makan, Kini Isma Menjadi Penjaga di Baliknya

Bogor — Bagi Isma (38), kekhawatiran tentang anak bukanlah hal yang asing. Di tengah kesibukan bekerja serabutan, ia kerap dihantui pertanyaan sederhana yang terus berulang di kepalanya: apakah anak-anaknya sudah makan hari ini?

“Nanti makan siangnya gimana ya. Kadang kalau lagi kerja catering, saya sampai pulang dulu,” kenangnya.

Sebagai seorang ibu, terlebih single parent, kecemasan itu bukan perkara kecil. Dua anaknya yang masih sekolah bergantung pada kemampuannya membagi waktu antara bekerja dan memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.

Perubahan mulai terasa ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah anak-anaknya. Dari yang sebelumnya penuh kekhawatiran, kini Isma menemukan ketenangan yang selama ini ia cari.

“Sekarang jadi tenang, karena anak sudah dapat makan siang. Kadang pulang sekolah mereka sudah makan. Jadi ngerasa sangat terbantu,” ujarnya.

Namun perjalanan Isma bersama MBG tidak berhenti sebagai penerima manfaat. Sejak Desember lalu, ia justru menjadi bagian dari program tersebut. Ia bergabung sebagai relawan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mengambil peran sebagai koordinator pemorsian makanan.

Peran ini membawanya pada sudut pandang yang berbeda. Ia tidak hanya melihat hasil akhir, tetapi juga memahami proses di baliknya, mulai dari pengolahan hingga distribusi makanan yang diterima anak-anak setiap hari.

Pengalaman itu membuatnya lebih percaya diri ketika berhadapan dengan berbagai pertanyaan dari masyarakat. Isma kerap mendengar keraguan, terutama terkait anggaran makanan dalam program MBG. Namun, ia memilih untuk menjelaskan berdasarkan apa yang ia lihat dan alami langsung.

“Banyak yang bilang Rp15 ribu, padahal bukan begitu. Saya sering jelaskan ke ibu-ibu, ini sistemnya seperti ini,” tuturnya.

Isma (38) saat bekerja sebagai relawan pemorsian di SPPG Jogjogan 2

Ia bahkan pernah mencoba menghitung sendiri nilai makanan yang diterima anaknya, terutama saat program menyediakan makanan kering pada hari Sabtu. Hasilnya justru di luar dugaan.

“Saya pernah hitung, ternyata nilainya bisa sampai Rp14 ribu, bahkan lebih. Jadi sebenarnya kualitasnya itu memang dijaga,” katanya.

Di tempat kerja, Isma juga menemukan sesuatu yang tidak kalah penting: rasa kebersamaan. Lingkungan kerja yang hangat membuatnya merasa tidak sendiri dalam menjalani hari-hari yang sebelumnya terasa berat.

“Jadi punya teman baru. Kadang setelah pulang kerja, kita masih kumpul, masak bareng. Seru, jadi lebih terasa kekeluargaannya,” ujarnya sambil tersenyum.

Bagi Isma, MBG bukan sekadar program bantuan. Ini adalah jembatan yang menghubungkan dua peran penting dalam hidupnya sebagai ibu yang ingin memastikan anaknya terpenuhi kebutuhannya, dan sebagai bagian dari sistem yang membantu mewujudkan hal itu bagi banyak keluarga lain.

Dari rasa cemas yang dulu selalu menyertainya, kini Isma berdiri di sisi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya bertanya apakah anak-anaknya sudah makan, tetapi turut memastikan bahwa pertanyaan itu tak lagi menjadi kekhawatiran bagi orang tua lainnya.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional