Berita

/

Artikel

/

Dulu Buruh Bangunan, Andi Relawan Difabel di SPPG Kini Punya Penghasilan Pasti

Dulu Buruh Bangunan, Andi Relawan Difabel di SPPG Kini Punya Penghasilan Pasti

Nomor: SIPERS-144A/BGN/03/2026

Artikel 10 Maret 2026

picture-Dulu Buruh Bangunan, Andi Relawan Difabel di SPPG Kini Punya Penghasilan Pasti

Makassar - Pagi hari di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tamalate Maccini Sombala, Makassar, Sulawesi Selatan, selalu dimulai dengan kesibukan. Beberapa relawan menyiapkan bahan makanan, sebagian lainnya merapikan wadah makan yang akan dibagikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Di antara aktivitas itu, seorang pemuda tampak bekerja dengan tekun. Tangannya sigap membantu pekerjaan dapur, sesekali ia tersenyum kepada rekan-rekannya. Pemuda itu adalah Andi Cesarian (21), seorang pekerja difabel tuna wicara yang kini menjadi bagian dari tim dapur SPPG sebagai Helper.

Tak banyak yang tahu, sebelum bekerja di dapur ini, Andi menjalani pekerjaan yang jauh lebih berat sebagai buruh bangunan.

Dari Buruh Bangunan Kini Jadi Relawan SPPG

Beberapa waktu lalu, keseharian Andi dihabiskan di lokasi proyek bangunan. Pekerjaan itu memberinya penghasilan sekitar Rp100 ribu per hari, namun tidak selalu ada pekerjaan. Ketika hujan turun atau proyek berhenti, penghasilan pun ikut hilang.

Melihat kondisi tersebut, seorang relawan SPPG bernama Hasriyanti mencoba mengajak Andi untuk bekerja di SPPG. Awalnya ajakan itu tidak langsung diterima. Dia sempat ragu karena tidak memahami pekerjaan yang dilakukan di dapur.

"Bukan karena minder, tapi dia lihat ibu-ibu di dapur sibuk sekali. Dia tidak tahu pekerjaannya seperti apa, jadi takut," ungkap Hasriyanti, pada Selasa (10/3).

Hasriyanti kemudian menjelaskan pekerjaan yang ada di SPPG serta meyakinkan bahwa Andi bisa belajar secara bertahap. Bahkan keluarga Andi juga ikut mendorong agar dia mencoba kesempatan tersebut.

"Saya yakinkan sampai dia mau. Akhirnya mamanya juga membujuk, dia bilang (Program MBG) bagus karena ini bawa pemerintahan," ujarnya.

Tak lama, sekitar dua bulan lalu, Andi akhirnya memutuskan untuk bergabung. Meski memiliki keterbatasan dalam berbicara, Andi ternyata mampu menyesuaikan diri dengan cepat.

Komunikasi dengan rekan kerja dilakukan melalui bahasa isyarat sederhana dan gerakan tangan. "Dia langsung berbaur ji (red: saja). Teman-temannya juga mengerti," kata Hasriyanti.

Menurutnya, Andi terlihat menikmati pekerjaan di dapur. Saat ditanya melalui bahasa isyarat, dia menyampaikan bahwa dirinya merasa senang dan betah bekerja di sana. Lingkungan kerja yang terbuka membuatnya merasa diterima.

Penghasilan Lebih Pasti

Pekerjaan di SPPG juga memberikan perubahan bagi Andi dari sisi penghasilan. Kini ia memperoleh sekitar Rp110 ribu per hari dengan sistem pembayaran setiap dua minggu. Pendapatan tersebut dia gunakan untuk membantu keluarganya.

Andi merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai penjual burung keliling, sehingga tambahan penghasilan darinya cukup berarti bagi keluarga. "Dia bantu orang tuanya dan juga mencicil motor," kata Hasriyanti.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional