Berita

/

Artikel

/

“Di Balik Ompreng Pagi: Kisah Kader dan Harapan Baru dari Program Makan Bergizi Gratis”

“Di Balik Ompreng Pagi: Kisah Kader dan Harapan Baru dari Program Makan Bergizi Gratis”

Nomor: ARTIKEL-99/BGN/05/2026

Artikel 17 Mei 2026

picture-“Di Balik Ompreng Pagi: Kisah Kader dan Harapan Baru dari Program Makan Bergizi Gratis”

Makassar – Di sebuah sudut Kelurahan Bakung, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, aktivitas posyandu kini terasa berbeda. Jika dulu kehadiran ibu dan anak sering kali bergantung pada jadwal pemberian vitamin, kini suasana berubah menjadi lebih hidup dan rutin. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu titik baliknya.

“Dulu banyak yang datang hanya saat ada pemberian vitamin. Sekarang, anak-anak lebih rajin datang ke posyandu,” ungkap Budiarti seorang penyuluh gizi setempat.

Setiap pagi, sekitar pukul sembilan hingga sepuluh, makanan bergizi mulai didistribusikan dari dapur menuju tangan-tangan kecil yang menanti. Di balik proses sederhana itu, ada kerja sunyi para kader yang menjadi penggerak utama di lapangan. Di Kelurahan Bakung, para kader tidak hanya menunggu masyarakat datang. Mereka justru yang mendatangi.

Kehadiran MBG juga memberikan dampak nyata pada kondisi anak-anak. Dari hasil pemantauan rutin, terlihat adanya peningkatan berat badan pada anak-anak yang sebelumnya mengalami stunting.

“Alhamdulillah, badan anak-anak sekarang lebih bagus. Berat badannya naik,” tutur penyuluh tersebut.

Bagi anak-anak yang tidak hadir di posyandu, kader bersama Tim Pendamping Keluarga (TPK) turun langsung ke rumah. Mereka memastikan setiap anak tetap mendapatkan haknya baik pemantauan kesehatan maupun asupan gizi yang layak.

“Kalau yang tidak datang, kami datangi. Kami bawa ke rumahnya,” ujar Salfiah, salah satu kader.

Upaya ini menjadi sangat penting, terutama di wilayah dengan mayoritas masyarakat berpenghasilan sebagai buruh harian. Keterbatasan ekonomi sering kali membuat kebutuhan gizi anak terabaikan. Namun, kehadiran MBG menghadirkan secercah kelegaan.

“Orang tua yang tidak mampu sangat terbantu. Mereka bersyukur dengan adanya program ini,” ungkapnya.

Tidak hanya anak-anak, perhatian juga diberikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui. Melalui pemantauan rutin setiap bulan, kondisi kesehatan mereka terus diawasi. Sinergi antara kader posyandu, petugas KB, dan tenaga kesehatan dari puskesmas menjadi kekuatan utama dalam menjaga kesinambungan program.

Meski wilayah ini termasuk dalam lokus stunting di Kecamatan Biringkanaya, optimisme tetap terjaga. Data yang sempat naik turun kini mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan, seiring dengan konsistensi intervensi yang dilakukan.

Bagi para kader, keberhasilan bukan diukur dari angka semata, tetapi dari perubahan nyata yang mereka lihat setiap hari. Anak-anak yang lebih sehat, ibu-ibu yang lebih peduli, dan masyarakat yang semakin percaya bahwa masa depan bisa diperbaiki bersama. Di balik setiap ompreng yang dibagikan, tersimpan dedikasi dan harapan. Bahwa dari kerja kecil yang dilakukan dengan hati, perubahan besar perlahan mulai tumbuh.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?