Berita

/

Artikel

/

Dari Tungku Kayu Bakar, Tempe Khoiri Kini Menghidupi Tiga Dapur MBG

Dari Tungku Kayu Bakar, Tempe Khoiri Kini Menghidupi Tiga Dapur MBG

Nomor: ARTIKEL-105/BGN/05/2026

Artikel 24 Mei 2026

picture-Dari Tungku Kayu Bakar, Tempe Khoiri Kini Menghidupi Tiga Dapur MBG

Kulon Progo - Pagi belum benar-benar datang ketika asap tipis mulai mengepul dari tungku kayu bakar di rumah produksi milik Khoiri Rosyidin. Di sudut ruangan sederhana itu, pria 40 tahun tersebut sibuk mengaduk dan mencuci kedelai dalam dandang besar, sementara istrinya, Sisika, menyiapkan tahapan produksi berikutnya.

Bagi pasangan suami istri itu, hari-hari mereka hampir selalu dimulai sebelum matahari terbit. Aroma kedelai rebus, panas tungku, dan suara mesin penggiling sudah menjadi bagian dari kehidupan yang mereka jalani sejak 2009.

Dari usaha kecil rumahan itulah, tempe-tempe yang dahulu hanya dijual di pasar kini mampu menyuplai kebutuhan tiga dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Dulu paling produksi 40 kilo sekali bikin untuk dijual ke pasar dan warung,” ujar Khoiri.

Khori saat memproduksi tempe untuk mensuplai ke dapur MBG

Kini jumlah itu melonjak berkali-kali lipat. Dalam sekali produksi, mereka bisa menghabiskan hingga 150 kilogram kedelai untuk memenuhi permintaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Perjalanan usaha tempe mereka tidak datang secara instan. Selama bertahun-tahun, Khoiri dan Sisika menjalani usaha dengan ritme sederhana. Mereka memproduksi tempe untuk dijual ke pasar tradisional dan warung-warung sekitar dengan harga Rp5.000 hingga Rp6.000 per potong.

Segala proses dikerjakan sendiri oleh mereka berdua, dari membersihkan kedelai hingga mengemas tempe. Bagi Khoiri dan Sisika, kualitas adalah hal yang tidak bisa ditawar. Ia masih mempertahankan cara lama dalam proses perebusan kedelai menggunakan kayu bakar. Menurutnya, cara itu membuat hasil tempe lebih baik dibanding menggunakan kompor biasa.

“Kita pake bahan bakarnya kayu karena kayu kan disini masih banyak dari rasa kan juga lebih enak,” katanya.

Namun tahap yang paling ia perhatikan adalah pencucian. Untuk urusan ini, Khoiri memilih turun tangan sendiri. Air yang digunakan berasal dari sumber mata air agar kebersihan dan kualitas tetap terjaga. “Kalau pencuciannya tidak bersih, kualitas tempenya pasti kurang bagus,” ujar Khoiri.

Kesempatan menjadi pemasok dapur MBG datang tanpa diduga. Awalnya, Sisika mendapat informasi dari seorang teman bahwa dapur SPPG membuka peluang kerja sama dengan UMKM lokal. Mereka lalu mencoba menawarkan tempe hasil produksinya. “Awalnya cuma coba-coba, nggak berharap banyak,” kata Sisika.

Siska saat memproduksi tempe untuk mensuplai ke dapur MBG

Namun ketika sampel pertama masuk, ada beberapa catatan dari pihak dapur SPPG. Kadar ragi diminta dikurangi agar hasil tempe lebih sesuai standar. Tempe juga harus dibuat lebih padat dan rapi. Biasanya mereka menggunakan dua sendok makan ragi untuk setiap 10 kilogram kedelai, tetapi untuk kebutuhan MBG dikurangi menjadi satu setengah sendok agar hasil fermentasi lebih baik.

Khoiri mengikuti semua masukan itu dengan serius. Baginya, kesempatan tersebut terlalu berharga untuk disia-siakan, akhirnya pada 14 April 2025, tempe produksi mereka resmi diterima untuk menyuplai dapur MBG. Sejak saat itu, usaha kecil mereka berkembang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya.

Jika dahulu dalam seminggu mereka memproduksi sekitar 240 kilogram kedelai untuk pasar, kini satu kali pengiriman ke dapur MBG saja bisa mencapai 150 kilogram dan dilakukan hingga tiga kali dalam seminggu.

Permintaan yang terus meningkat membuat Khoiri dan Sisika kerap kewalahan. Untuk memenuhi pesanan, mereka mulai melibatkan warga sekitar membantu proses produksi. “Kadang tidak sanggup kalau dikerjakan berdua saja,” ujar Sisika.

Meski usahanya berkembang pesat, Khoiri mengaku tantangan terbesarnya justru menjaga kualitas produksi tetap konsisten. Di tengah kesibukan itu, ada rasa bangga yang diam-diam tumbuh dalam dirinya. Tempe buatan rumahan yang dahulu hanya dikenal di pasar sekitar, kini bisa dinikmati para peserta didik melalui Program MBG.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?