Berita

/

Artikel

/

Dari Kebun Sederhana ke Dapur MBG: Harapan Tumbuh di Tangan Pak Nardi

Dari Kebun Sederhana ke Dapur MBG: Harapan Tumbuh di Tangan Pak Nardi

Nomor: ARTIKEL-102/BGN/05/2026

Artikel 17 Mei 2026

picture-Dari Kebun Sederhana ke Dapur MBG: Harapan Tumbuh di Tangan Pak Nardi

Kulon Progo– Pagi itu, embun masih menggantung di ujung daun sawi dan kangkung di sebuah kebun sederhana seluas 2.000 meter persegi. Di sanalah Florentino Sunardi, akrab disapa Pak Nardi memulai harinya. Bukan sekadar merawat tanaman, tetapi juga menanam harapan, bagi dirinya, anak-anak, dan masa depan pangan yang lebih sehat.

Lahir dari sebuah kegelisahan terhadap anak-anak yang banyak mengahabiskan waktu di layar gawai, Kebun Suburnggabur sebagai ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang kembali mengenalkan anak-anak pada alam. Bebekal pengalaman di bidang pertanian selama lebih dari satu dekade, Pak Nardi menjadi perantaran kurikulum pertanian di SD Pangudi Luhur Kalirejo.

“Padahal orang tua mereka kebanyakan petani, namun tidak ada yang mengajarkan anak-anaknya bertani” tutur Pak Nardi.

Setiap minggu, siklus kehidupan berlangsung tanpa henti. Menanam, merawat, lalu memanen. Dengan 45 bedeng yang ditanami beragam sayuran seperti sawi putih, timun, kangkung, dan bayam, kebun ini menghasilkan panen rutin setiap hari Sabtu. Meski jumlahnya tidak besar, setiap hasil panen memiliki arti yang jauh lebih dalam.

Hasil kebun sering kali menghadapi ketidakpastian. Kadang laku, kadang tidak. Pendapatan pun menjadi tak menentu. Kegiatan edukasi dan praktik langsung di kebun tetap berjalan. Pikirnya, keuntungan dari kebun bisa jadi nomor yang sekian, yang paling penting yaitu anak-anak bisa belajar bagaimana dari sebuah benih kecil bisa tumbuh menjadi sumber kehidupan.

Hingga suatu hari, kesempatan itu datang. Melalui koneksi dengan alumni yang kini menjadi ahli gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sayuran dari kebun Suburnggabur mulai dilirik. Keunggulan mereka sederhana namun kuat. Sayuran organik, sehat, dan ditanam dengan penuh perhatian, menjadi nilai jual.

Pengiriman pertama mungkin belum sempurna dari permintaan 120 kilogram, hanya 80 kilogram yang mampu dipenuhi. Namun dari situlah langkah kecil dimulai. Pak Nardi terus berusaha memaksimalkan produktivitas kebunnya. Kini, setiap hasil panen yang disalurkan ke dapur MBG memiliki kepastian dibeli, digunakan, dan menjadi bagian dari makanan bergizi untuk anak-anak.

“Yang jelas ada peningkatan penghasilan,” ujar Pak Nardi.

Hasil kebun yang dulunya hanya berputar di lingkaran kecil, kini menjadi bagian dari gerakan besar pemenuhan gizi nasional. Pendapatan tambahan yang diperoleh pun tidak digunakan untuk kepentingan pribadi semata. Sebagian besar kembali ke kebun untuk membeli bibit, pupuk, dan menjaga keberlanjutan produksi.

“Harapan kami sederhana, seberapa pun hasilnya, semoga bisa terus diterima di dapur MBG.”

Di tengah keterbatasan lahan dan produksi, harapan itu terus tumbuh setiap kali benih ditanam, setiap kali panen tiba. Kebun Suburnggabur, tumbuh bukan hanya sayuran. tetapi juga masa depan.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

Butuh Bantuan?