Dari Dapur ke Bangku Kuliah: Cara Bulqis, Relawan SPPG Menjemput Masa Depan
Nomor: ARTIKEL-98/BGN/05/2026
Artikel • 17 Mei 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasMakassar – Langit di Makassar masih gelap ketika Bulqis sudah memulai harinya. Jam menunjukkan pukul 04.00 WITA. Di saat sebagian orang masih terlelap, ia sudah berdiri di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Biringkanaya 03.
Tangannya cekatan. Membersihkan area, menyiapkan ompreng, hingga memorsikan makanan. Rutinitas itu ia jalani setiap hari, dari matahari belum terbit hingga tepat di atas kepala. Namun bagi Bulqis, ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah jalan menuju mimpinya.
Bulqis, 20 tahun, adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya telah pensiun, sementara sang ibu bekerja sebagai buruh. Setelah lulus sekolah, hari-harinya sempat diisi dengan rutinitas sederhana, yaitu membantu pekerjaan rumah, lalu mencari lowongan kerja hingga malam.
Waktu berjalan, tetapi kesempatan belum juga datang. Hingga suatu hari, ia menemukan informasi perekrutan relawan SPPG di media sosial lowongan kerja Makassar.
“Waktu itu saya lihat seperti ada harapan,” kenangnya.
Ia mendaftar. Mengikuti proses seleksi dan akhirnya diterima. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Bekerja di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan hal yang mudah. Ritme kerja yang dimulai sejak subuh menuntut fisik yang kuat dan konsistensi tinggi. Namun dari dapur itu, Bulqis justru menemukan sesuatu yang selama ini ia cari, yakni kesempatan.
Dari penghasilan sebagai relawan, ia mulai memenuhi kebutuhan sendiri. Bahkan, perlahan ia bisa membantu orang tuanya.
“Dulu saya yang diberi uang jajan. Sekarang saya bisa memberi ke orang tua,” ujarnya.
Lebih dari itu, ia mulai menabung. Dari tabungan itulah, mimpi yang sempat tertunda akhirnya menjadi nyata. Bulqis kini resmi menjadi mahasiswi di Universitas Terbuka, jurusan Ilmu Komunikasi. Perjalanan itu tidak instan, ada jeda panjang setelah lulus sebelum akhirnya ia bisa kuliah. Namun bekerja di SPPG menjadi titik balik yang menentukan.
“Dari sini saya bisa bayar kuliah sendiri,” katanya.
Kini, ia menjalani dua peran sekaligus, relawan dapur MBG dan mahasiswi. Waktu dibagi dengan disiplin. Pagi hingga siang bekerja di dapur. Siang digunakan untuk beristirahat sejenak. Sore hingga malam, ia kembali berjuang kali ini dengan buku dan tugas kuliah.
Lelah? Tentu. Namun ia memilih untuk tetap berjalan. Bagi Bulqis, Program MBG bukan hanya tentang menyediakan makanan bergizi. Program ini membuka ruang memberi peluang bagi anak muda seperti dirinya untuk bangkit dan mandiri. Pengalaman di dapur tidak hanya berdampak secara finansial, tetapi juga membentuk karakter disiplin, tanggung jawab, dan ketahanan. Momen paling berkesan baginya sederhana, namun bermakna besar ketika ia menyadari bahwa dari pekerjaannya, ia mampu membiayai hidup dan pendidikannya sendiri.
Di tengah kesibukannya, Bulqis menyimpan pesan untuk anak muda lain yang mungkin berada di posisi yang sama.
“Jangan malu bekerja selama itu halal. Jalani saja dengan ikhlas dan sabar,” ujarnya.
Bagi Bulqis, setiap langkah kecil yang diambil hari ini bisa menjadi jalan besar di masa depan. Dari dapur sederhana di sudut kota, Bulqis tidak hanya menyiapkan makanan bergizi untuk orang lain. Ia sedang menyiapkan masa depannya sendiri.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional