Berita

/

Artikel

/

Dari Ciki ke Gizi Seimbang, MBG Ubah Kebiasaan Makan Anak TK di Makassar

Dari Ciki ke Gizi Seimbang, MBG Ubah Kebiasaan Makan Anak TK di Makassar

Nomor: SIPERS-144F/BGN/03/2026

Artikel 10 Maret 2026

picture-Dari Ciki ke Gizi Seimbang, MBG Ubah Kebiasaan Makan Anak TK di Makassar

Makassar — Riuh tawa anak-anak memenuhi halaman kecil berukuran sekitar 6 x 7 meter di TK Aisyiyah Balang Bodong, Kecamatan Tamalate, Makassar. Pagi itu, suasana berubah semakin semarak saat petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) datang membawa paket makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah dinanti sejak awal hari.

Sebanyak 123 siswa dari tujuh kelas berbaris rapi dengan wajah penuh antusias. Bagi mereka, momen pembagian makanan MBG bukan sekadar waktu makan, tetapi juga pengalaman yang menyenangkan dan dinanti setiap hari.

Kepala TK Aisyiyah Balang Bodong, Murtiati (57), menyebut program MBG membawa perubahan signifikan, terutama pada pola makan anak-anak. Selama 25 tahun mengajar, ia melihat perbedaan mencolok antara kondisi sebelum dan sesudah program berjalan.

“Dulu anak-anak yang bawa bekal sering kali hanya snack ringan seperti ciki. Sekarang alhamdulillah semua bisa makan makanan bergizi di sekolah,” ujarnya.

Dalam tujuh bulan terakhir sejak memimpin sekolah tersebut, Murtiati merasakan langsung dampak MBG, khususnya bagi siswa dari keluarga prasejahtera. Program ini tidak hanya memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang lebih baik, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang positif.

Salah satu indikator paling terlihat adalah meningkatnya kehadiran siswa. Jika sebelumnya selalu ada lima hingga sepuluh anak yang absen setiap hari, kini tingkat kehadiran nyaris sempurna.

“Sekarang hampir 100 persen hadir. Anak-anak jadi lebih semangat ke sekolah karena menunggu MBG,” katanya.

Tak hanya itu, perubahan juga terlihat dari kondisi fisik siswa. Anak-anak tampak lebih sehat dan aktif, dengan berat badan yang mulai meningkat seiring konsumsi rutin makanan bergizi seperti telur, buah, dan susu.

“Kelihatan lebih berisi dan sehat. Apalagi ada susu dan buah, itu sangat baik untuk tumbuh kembang mereka,” tambah Murtiati.

Meski sesekali ada evaluasi terkait cita rasa makanan, Murtiati menilai hal tersebut wajar dan tidak mengurangi manfaat besar yang dirasakan. Ia berharap program MBG dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak anak.

Bagi Murtiati, setiap riuh tawa yang kembali menggema di halaman kecil sekolahnya bukan sekadar keceriaan biasa. Di baliknya, tumbuh harapan akan generasi yang lebih sehat, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi masa depan.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional