Berita
/
Artikel
/
Benih, Tumbuh, dan Harapan: Ada Tangan-Tangan Kecil di balik Seporsi Makanan Bergizi
Benih, Tumbuh, dan Harapan: Ada Tangan-Tangan Kecil di balik Seporsi Makanan Bergizi
Nomor: ARTIKEL-103/BGN/05/2026
Artikel • 17 Mei 2026
Sumber:
Dok. Biro Hukum dan HumasKulon Progo – Pagi masih basah oleh embun ketika tangan-tangan kecil mulai menyentuh tanah. Anak-anak datang dengan seragam sederhana, sebagian berlari kecil menuju kelas, sebagian lagi menyapa guru dengan senyum malu-malu. Namun dalam setahun terakhir, ada sesuatu yang berubah.
SD Pangudi Luhur Kalirejo mengajarkan sesuatu yang jarang ditemukan. keterampilan hidup yang nyata. Setiap hari, anak-anak kini tidak hanya datang untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung. Sebanyak 48 siswa ini telah memiliki berbagai kegiatan pembelajaran, termasuk aktivitas unik yang jarang ditemui di sekolah lain, yakni berkebun.
Di sebuah kebun seluas 2.000 meter persegi bernama Subur Ngabur, anak-anak sekolah dasar belajar tentang kehidupan langsung dari alam. Sejak tahun 2008, kebun ini menjadi bagian dari kegiatan khas sekolah. Setiap minggu, siswa dilibatkan dalam seluruh proses pertanian: mulai dari persiapan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen. Bahkan, mereka juga belajar mengolah dan menjual hasil panen tersebut.
Awalnya, hasil panen hanya dijual ke masyarakat sekitar atau dikonsumsi sendiri. Seiring berjalannya waktu, kehadiran program MBG menghadirkan dimensi baru dalam kehidupan belajar mereka seakan membuka peluang baru yang sebelumnya tidak terbayangkan. Bagi seorang guru kelas 6 yang telah mengabdi selama empat tahun di sekolah itu, perubahan ini bukan sekadar kesan melainkan sesuatu yang nyata dirasakan sejak hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kami beberapa kali menjadi supplier bahan untuk dimasak di dapur MBG,” ujar Yuli, guru di kelas 6.
Di titik inilah, ekosistem kecil yang dibangun sekolah menemukan perannya dalam skala yang lebih besar. Apa yang ditanam oleh siswa, kini tidak hanya berhenti di kebun atau dapur sekolah. Sayuran tersebut menjadi bagian dari rantai pasok makanan bergizi untuk program nasional. Ini bukan hanya soal distribusi pangan. Ini adalah pembelajaran nyata tentang kebermanfaatan.
Anak-anak tidak hanya belajar menanam, tetapi juga memahami bahwa hasil kerja mereka memiliki nilai dan dampak bagi orang lain. Kolaborasi antara sekolah, petani, dan program pemerintah ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan dapat terhubung dengan kebutuhan nyata masyarakat. Di satu sisi, anak-anak belajar tentang pertanian dan kemandirian. Di sisi lain, mereka juga menjadi bagian dari solusi pemenuhan gizi.
Harapan ke depan pun sederhana namun penuh makna agar program ini terus berjalan dan semakin luas manfaatnya. Di Kebun Suburnggabur, benih yang ditanam tidak hanya tumbuh menjadi sayur, tetapi juga menjadi pengetahuan, kepedulian, dan harapan.
Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional